JAKARTA - Mantan pengikut Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) Febri Ramdani, mengenang bagaimana perjalanannya ke Suriah dan hampir satu tahun menetap di Negeri Syam itu.
Ia mengatakan, apa yang terjadi di Suriah berbeda dengan yang disampaikan oleh kelompok teroris tersebut lewat media sosial (medsos).
Febri mengaku datang ke Suriah lantaran ingin menyusul sebanyak 21 keluarganya yang telah terlebih dahulu berhijrah ke sana.
"Di situ saya sudah melihat banyak fakta-fakta yang tidak sesuai dengan apa yang dipropagandakan di media ISIS," kata Febri dalam peluncuran buku '300 Hari di Bumi Syam: Catatan Perjalanan Mantan Pengikuti ISIS' di UI Salemba, Jakarta, Selasa (11/2/2020).
Febri menerangkan, pada awalnya dirinya menolak saat diajak oleh keluarga yang akan berhijrah ke Suriah. Kala itu, pada 2015 silam, keluarganya dengan rombongan besar berangkat ke Suriah lantaran ingin hidup di negara yang menerapkan hukum Islam seperti yang ada di zaman Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Jokowi Tolak Pemulangan Eks ISIS, DPR: Saat Bergabung Mereka Tak Lagi WNI
Febri menolak diajak saat itu. Dia pun sempat indekos karena hampir seluruh keluarga intinya sudah berangkat ke Suriah.
Kesendiriannya pun akhirnya membuat ia mencari informasi soal ISIS di website milik kelompok teroris yang dipimpin Abu Bakr Al Baghdadi itu. Alhasil, dua tahun kemudian dirinya memutuskan berangkat ke Suriah dengan niat untuk bertemu keluarga dan belajar di sana.
"Saya lihat memang propagandanya bagus, pendidikan hingga kesehatan gratis. Bahkan Abu bakr Al Baghdadi bilang kita boleh dibebaskan jadi apa saja. Nggak harus berperang," kenangnya.
Febri bertolak ke Suriah dengan diurus oleh kerabatnya. Ia tak merinci siapa kerabat yang mengurus dirinya hingga bisa sampai ke kota yang dikuasai ISIS tersebut.