5. Lenong
Lenong merupakan kesenian teater tradisional khas Betawi. Jumlah pemain teater ini tidak lebih dari 10 orang dan tentunya wajib menggunakan dialog bahasa Betawi. Pada saat pertunjukan, pemain lenong ini sesekali melontarkan adu pantun sehingga menimbulkan keunikan jalan ceritanya. Biasanya lenong diiringi menggunakan gambang kromong sebagai iringan musiknya.
Eksistensi lenong sempat terjun bebas hingga kembali bangkit dan dipopulerkan oleh tayangan televisi pada 1970. Untuk membawakan sebuah pertunjukan lenong, para pemainnya harus melakukan ungkup yakni sebuah upacara khusus yang berisikan doa dan sesaji. Namun, sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal lenong hanya sebatas pertunjukan teater yang menggelitik perut penonton.
6. Palang Pintu
Tradisi ini merupakan sebuah kesenian Betawi yang merupakan paduan antara silat dan juga pantun. Palang pintu juga menjadi salah satu rangkaian dalam pernikahan orang Betawi. Pada tradisi ini, setiap pengantin pria akan mendapat tantangan dari mempelai wanita untuk menguji kepiawaian bela diri serta kepandaian dalam mengaji.
Diketahui, tokoh Betawi, Pitung (1874-1903) ternyata telah menjalani tradisi ini saat hendak memperistri Aisyah, yang merupakan putri jawara dengan julukan 'Macan Kemayoran', Murtadho.
Istilah palang pintu dikalangan masyarakat Betawi diartikan sebagai menghalangi orang lain yang akan memasuki daerah tertentu, dimana suatu daerah memiliki jawara alias pendekar yang siap menghadang. Palang pintu lazimnya muncul saat acara pernikahan atau besanan.
7. Tari Lenggang Nyai
Tarian ini diciptakan oleh Wiwik Widiastuti, koreografer Yogyakarta pada 1998. Tarian ini menjadi populer dan sering ditampilkan pada acara seni dan pariwisata dalam negeri hingga mancanegara.
Tari lenggang nyai dibawakan oleh empat hingga enam gadis kecil, bisa dibilang merupakan paduan dari gaya cokek, tari topeng, dan ada pengaruh China. Uniknya, gerakan tarian ini menggambarkan karakter dan cerita dari Nyai Dasimah.
(Angkasa Yudhistira)