MANADO - Keputusan Kementerian Perdagangan untuk menutup sementara impor produk makanan dan minuman dari China akibat wabah virus korona atau Covid-19, belum berdampak signifikan di Sulawesi Utara (Sulut).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Edwin Kindangen mengatakan, yang berpengaruh terhadap dihentikannya impor dari China bagi masyarakat Sulut hanya bawang putih saja di mana harganya sempat naik.
Bawang putih Indonesia disuplai dari China sehingga menimbulkan kekhawatiran, walaupun sebenarnya sesuai hasil penelitian, media pembawa virus korona bukanlah dari tanaman bawang.
"Di Sulawesi Utara sendiri kondisi bawang putih tidak langka, barang ada, bahkan beberapa hari terakhir harganya sudah turun, memang ada lonjakan harga tapi barang tersedia," kata Edwin Kindagen kepada Okezone, Kamis (20/2/2020).
"Dampak dari virus korona untuk perdagangan di Sulawesi Utara secara prinsip tidak ada," tambahnya.
Ekspor
Disperindag juga memastikan pembatasan ekspor ke China akibat wabah virus korona juga tak berpengaruh ke Sulut, karena volume ekspor komoditas dari Sulut ke China tidak begitu signifikan.
Ekspor komoditas dari Sulut kebanyakan ke Eropa, Jepang dan Korea Selatan.
Kabid Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulut, Darwin Muksin mengatakan, saat ini ada lonjakan ekspor minyak kelapa kasar dari Sulut ke Belanda.
"Untuk China sementara ini belum ada ekspor ke sana karena dibatasi sejak mulai munculnya wabah virus korona," kata Darwin.