JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kamis 18 Maret menyerukan agar tes virus corona dilakukan secara cepat dan massal guna mencegah penyebaran Covid-19.
"Perbanyak tempat-tempat untuk melakukan tes dan melibatkan rumah sakit baik pemerintah, milik BUMN, pemda, rumah sakit milik TNI, Polri dan swasta dan lembaga riset, dan perguruan tinggi yang mendapatkan rekomendasi Kemenkes," kata Jokowi.
Data terbaru Kementerian Kesehatan, kasus baru positif virus corona di Indonesia bertambah 82 kasus, sehingga total kasus positif Covid-19 menjadi 309. Sedangkan kasus kematian 25 dan sembuh 15 orang.
Merujuk data WHO, secara global, Covid-19 telah menjangkiti lebih dari 190.000 dan menewaskan hampir 8.000 orang.
Pusat virus kini berpindah dari China ke Eropa, di mana Italia menjadi pusat wabah, dengan laporan lebih 300 kematian setiap hari.
Namun di Korea Selatan, yang pernah menjadi negara dengan wabah terburuk di luar China, kasus virus corona mulai menurun.
Sejumlah warga antre di apotek untuk membeli masker yang dijatah pemerintah setiap minggu dan banyak dari mereka yang bekerja dari rumah, tetapi bisnis tetap berjalan dan pemerintah tidak menerapkan penutupan atau lockdown secara nasional.
Bahkan, Korea Selatan memiliki salah satu tingkat korban terendah Covid-19 di dunia, hanya 1 persen.
Baca juga: Angka Kematian Akibat Corona Mencapai 8%
Baca juga: Filipina Larang Masuk Warga Asing dari Semua Negara untuk Hentikan Penyebaran COVID-19
Sedangkan tingkat kematian kasus Covid-19 di Indonesia tetinggi di kawasan ASEAN. Berbeda jauh dengan dengan Malaysia, yang melaporkan 900 kasus positif corona dan 2 kematian.
"Korea Selatan benar-benar membedakan dirinya karena mampu mengungkapkan informasi secara transparan dan memerangi virus," kata Hwang Seung-sik, seorang ahli epidemiologi dan profesor di Seoul National University mengutip Al Jazeera.
"Kami melakukan yang terbaik untuk mengeksplorasi sumber daya dan kami bekerja keras untuk menguji orang secara massal dan melakukan karantina. Tetapi virus corona sudah ada sekitar tiga bulan dari sekarang, dan tidak begitu jelas persiapan apa yang telah dilakukan AS atau negara-negara Eropa lainnya," lanjut dia.
Cepat bertindak
Wabah virus corona di Korsel bermula pada 18 Februari, ketika negara itu mengonfirmasi pasien ke-31 Covid-19.
Pasien tersebut merupakan seorang wanita paruh baya yang mengikuti ibadah sekte agama Shincheonji Yesus. Pasien itu kemudian menyebarkan virus corona kepada sesama anggota sekte tersebut di Kota Daegu.
Tiba-tiba, kasus virus corona di Korsel melonjak 180 kali lipat dalam rentang dua minggu. Pada puncaknya, para ahli medis mendiagnosis ada lebih dari 900 kasus baru sehari, menjadikan Korea Selatan wabah terbesar kedua di dunia.
Sekarang, tingkat pertumbuhan di Korsel telah melambat secara signifikan.
"Kami memang berhasil menurunkan angka kasus baru yang dikonfirmasikan menjadi kurang dari 100 per hari. Ini adalah pencapaian besar, tapi kami belum bisa merayakannya," kata Hwang.
"Ini bisa menjadi ilusi yang bisa membodohi kita untuk percaya bahwa wabah telah berakhir," lanjut dia.