JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi virus corona (Covid-19) di wilayah administratifnya.
Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menilai, kebijakan PSBB tersebut tidak efektif mencegah penyebaran virus corona di Ibu Kota. Pasalnya, masih banyak warga yang berkumpul seperti di moda transportasi kereta rel listrik (KRL).
"Saya jadinya tidak yakin dengan PSBB ini seperti di Jakarta orang tetap berkerumun, pelanggaramnya juga banyak. Tidak ada physical distancing, itu lihat tadi pagi orang berjubel naik KRL," kata Trubus saat berbincang dengan Okezone, Senin (13/4/2020).
Baca Juga: Update Covid-19 di Indonesia 13 April 2020: 4.557 Positif, 399 Meninggal dan 380 Sembuh
Trubus menilai, pemerintah juga tidak bisa memberikan sanksi apapun terkait banyaknya warga yang berdesakan di moda transportasi umum. Apalagi, para warga tersebut menggunakan moda transportasi untuk bekerja.
"Jadi, apalah artinya semua itu? Kalau mau dikasih sanksi, apa sanksinya? (tidak ada)," ucapnya.
Trubus menilai, kebijakan PSBB ini juga terlalu birokratis. Sebab, masih ada usulan PSBB yang diajukan pemerintah daerah namun ditolak oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto.
Menurut dia, seharusnya Pemda diperbolehkan melaksanakan PSBB di wilayah administratifnya guna mencegah penyebaran wabah corona.
"Jadi, kebijakan untuk penanganan itu ada tiga antisipatif, preventif, dan kuratif. Harusnya diserahkan saja ke daerah dan pemerintah pusat hanya mengawasi dan mengevaluasi saja sesuai Perpres dan tidak usah ada Permenkes itu," tutur dia.
Ia menambahkan, seharusnya kebijakan PSBB cukup berkoordinasi saja dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Sehingga, Pemda bisa maksimal dalam memutus penyebaran Covid-19.
"(Sekarang) dampaknya penyebaran Covid-nya sudah tidak bisa ditanggulangi lagi. Penyebaran Covid-19 sudah ke mana-mana. Kita masih sibuk soal administrasi," ujarnya.
Baca Juga: Doni Monardo: Orang Tanpa Gejala Banyak Tularkan Corona
(Arief Setyadi )