Cerita Jurnalis Australia Pergi dari Jakarta karena Wabah Virus Corona

ABC News, Jurnalis
Jum'at 17 April 2020 16:38 WIB
Anne Barker, koresponden ABC Australia di Indonesia. (Foto/ABC Indonesia)
Share :

JAKARTA - Di tengah pandemi virus corona, Pemerintah Australia menyarankan seluruh warganya di luar negeri untuk pulang. Jurnalis ABC di Jakarta pun dengan berat hati meninggalkan kota yang sudah menjadi "rumah" mereka selama ini.

Berikut penuturan jurnalis Anne Barker yang sudah lebih setahun bertugas di Indonesia:

Ini merupakan keputusan paling menyakitkan yang pernah saya buat.

Sebulan lalu, tak pernah terlintas dalam pikiran saya, atau rekan lainnya di biro ABC di Jakarta, bahwa kami tidak bisa lagi bekerja seperti biasa, melaporkan peristiwa di Indonesia. Bahkan setelah ada dua kasus pertama virus corona yang dikonfirmasi pihak berwenang.

Tapi satu minggu adalah waktu yang terbilang lama dalam situasi pandemi. Hanya dalam tempo beberapa hari semuanya tiba-tiba berubah.

Dari dua kasus menjadi empat. Dari empat menjadi 19 kasus. Lalu 30, 96, 227 dan terus meningkat drastis.

Sejumlah pertanyaan muncul di benak saya. Begitu pula yang dikemukakan juru kamera dan produser kami di biro.

Bagaimana jika Indonesia tiba-tiba menjadi seperti Italia atau Iran, yang mengalami ribuan atau puluhan ribu kematian?

Apa yang akan kami lakukan jika Jakarta ditutup, perbatasan ditutup, penerbangan dikurangi, layanan kesehatan kedodoran? Pertanyaan-pertanyaan ini kian mendesak, karena ternyata sebagian besar kasus corona terjadi di Jakarta.

Bahkan penyebarannya tak diragukan lagi jauh lebih buruk daripada angka resmi yang diumumkan. Jakarta yang sudah menjadi rumah kami selama satu setengah tahun terakhir, tiba-tiba terasa penuh kontradiksi.

Saya tetap ingin tinggal. Saya berencana untuk tinggal. Masalahnya, bagaimana? Tak pernah terpikirkan olehku untuk pergi, apalagi untuk melaporkan berita terbesar di Indonesia, sejak tsunami Aceh atau jatuhnya Suharto 22 tahun silam.

Saya memiliki tanggung jawab untuk tetap di sini. Kantor saya ABC pun memiliki tanggung jawab menyampaikan berita dari sini untuk rakyat Australia.

Beberapa hari kemudian, bukan hanya kami, tapi juga koresponden kantor berita di seluruh dunia menghadapi pertanyaan yang sama. Manajer saya di Australia menyarankan untuk pulang.

Saya masih bersikukuh, bahwa saya dan pasanganku bisa bertahan dan menyiapkan bahan makanan hingga enam bulan. Saya bisa kerja dari rumah, yang juga sudah saya lakukan untuk beberapa saat.

Saya bahkan berjanji tidak akan pernah meninggalkan apartemen, jika memang harus demikian. Tiga bulan. Enam bulan. Tidak ada yang akan masuk ke tempat kami. Saya sepenuhnya akan bekerja dari rumah.

Apalagi, kondisi kesehatan saya baik. Tidak ada masalah dan saya pun jarang sakit. Peluang saya tertular virus ini sangat kecil. Namun dalam beberapa hari, situasi pandemi ini mulai terasa. Ketidakpastian membuat tingkat kecemasan saya melonjak.

Bagaimana jika enam bulan tidak cukup? Bagaimana jika kami harus keluar untuk membeli bahan makanan lebih banyak dan akhirnya terpapar virus?

Apakah keyakinan saya jika salah seorang dari kami tidak akan memerlukan perawatan rumah sakit, cukup beralasan?

Bagaimana jika kepanikan berbelanja membuat toko-toko kosong dan puluhan juta warga Indonesia tidak bisa mendapatkan makanan?

Apakah Jakarta akan mengalami penjarahan, atau kerusuhan, serta kekacauan? Semua kekhawatiran ini menghadirkan skenario baru yang berbahaya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya