Terlepas dari segala upaya kami, bagaimana jika kami sakit di rumah, atau salah seorang dari kami mengalami kecelakaan atau patah kaki?
Tidak akan ada akses untuk mendapatkan perawatan. Asuransi kesehatan kami tidak ada artinya. Tidak akan ada peluang untuk dievakuasi ke Singapura atau Australia.
Sistem layanan kesehatan Indonesia tidak seperti Australia. Rata-rata hanya ada 12 tempat tidur rumah sakit untuk setiap 10.000 orang, di Australia jumlahnya lebih dari tiga kali lipat.
Indonesia juga hanya memiliki empat dokter untuk setiap 10.000 orang dan tiga tempat perawatan intensif per 100.000 orang. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan Italia atau Korea Selatan, yang sudah kesulitan menangani epidemi ini.
Hingga kini, puluhan dokter Indonesia telah meninggal, begitu pula dengan perawat. Jadi, peluang Indonesia untuk mengatasi pandemi ini sangat minim.
Lalu, saat itu pun tiba. Kami duduk di beranda apartemen, di antara beberapa tanaman pot yang kami beli lebih dari setahun yang lalu. Tanpa banyak bicara, kami sadari betapa pilihan kami hanya satu: kami harus pulang. Kameramen Phil Hemingway juga sudah lebih dahulu pulang ke Australia.
Secara realistis, mungkin baru enam bulan atau setahun lagi baru kami bisa kembali ke Indonesia. Hatiku hancur ketika memikirkan apa yang akan terjadi di Indonesia sebelum kami bisa kembali.
Saya meninggalkan rekan-rekan yang penuh dedikasi, yang terus bekerja dari rumah agar biro tetap beroperasi. Juga sahabat-sahabat lainnya yang beberapa di antaranya sudah kehilangan pekerjaan. Rekan-rekan dari Australia lainnya semua menghadapi keputusan yang sama.
Kami sebenarnya masih berharap dapat tinggal di Indonesia paling tidak satu minggu lagi. Tapi maskapai penerbangan sudah semakin terbatas cepat dan perbatasan pun mulai ditutup.
Sejumlah turis Australia sudah terlantar di Bali setelah penerbangan dibatalkan. Mereka tidak tahu berapa lama akan terjebak saat itu.
Saat saya menelepon Yanti, manajer kantor biro, kami berdua tak kuasa menahan tangis. Selama 41 tahun bekerja di ABC di Jakarta, Yanti belum pernah melihat kantor dalam keadaan kosong seperti ini.
Kesedihannya dapat dimengerti, karena dia khawatir kami mungkin tak akan pernah bisa kembali.
Saya meyakinkan mereka, bahwa saya masih menjadi koresponden ABC untuk Indonesia, akan tetap bekerja meski sementara ini berada di Australia.
Kini setelah beberapa saat di Australia, saya justru sudah merindukan rutinitas kantor kami di Menteng, juga kopi Jawa, atau Phil yang cerewet dengan kameranya.
Until we return my friends. Tunggu sampai kami kembali, kawan.
(Rachmat Fahzry)