WUHAN - Para pejabat China mengatakan tidak ada lagi pasien virus corona di rumah sakit di seluruh provinsi Hubei, dengan Wuhan sebagai ibu kotanya.
Namun, banyak warga dan pengguna internet ragu dengan klaim pemerintah China itu.
“Mengingat masalah asimetri informasi yang kami hadapi, firasat saya mengatakan bahwa laporan nol pasien itu hanyalah sebuah citra politik setelah pihak berwenang mengumumkan sebelumnya bahwa tidak ada perawatan yang diperlukan bagi pasien yang pulih dengan hasil tes positif,” kata seorang warga Wuhan mengutip VOA.
Warga itu minta diidentifikasi sebagai “Tuan Yang” karena alasan keamanan.
Ia menambahkan China melakukan pencitraan politik seperti itu karena adanya “ancaman penutupan pabrik-pabrik menyebabkan dampak yang lebih buruk bagi rezim yang berkuasa daripada virus corona.
Keraguan Yang mengacu komentar Jian Yahui, seorang pejabat di Komisi Kesehatan Nasional China.
Menurut Global Times, media yang dikelola pemerintah China, Jian pada Jumat 24, April mengatakan bahwa jumlah pasien virus corona di Wuhan mencapai 47. Sebanyak 30 di antaranya tidak menunjukkan gejala.
Ia menambahkan bahwa pasien-pasien tersebut tidak lagi memerlukan perawatan.
Baca juga: Wuhan Izinkan Seluruh Pasien Covid-19 Pulang
Laporan juga kemudian mengutip Yang Zhanqiu, wakil direktur Departemen Biologi Patogen di Universitas Wuhan. Dia mengatakan bahwa pasien-pasien ini tidak akan diizinkan meninggalkan rumah sakit sampai tes negatif dengan uji tes dua kali berturut-turut.
Namun pada Senin, 27 April pihak berwenang kesehatan di Wuhan dan Hubei sama-sama mengklaim tidak memiliki pasien virus corona.
Statistik resmi menunjukkan bahwa, pada Minggu, provinsi Hubei memiliki total 68.128 pasien, 4.512 di antaranya meninggal sementara sisanya dipulangkan.
Di Weibo, media sosial terpopuler di China, mayoritas warganet menyatakan Wuhan dan China berhasil merawat pasien COVID-19 dan klaim China dan memerangi virus corona.
Warga Wuhan ragu
Sementara itu beberapa warga Wuhan meragukan serta merasa prihatin mengenai pasien tanpa gejala dan pasien pulih yang dinyatakan positif dapat menyebarkan virus corona.
Seorang pengguna dari Tibet menulis, "Tolong jangan main-main."
Sedangkan warganet dari Shanghai mengatakan, "Begitu cepat? ... Harap konfirmasi ulang angka-angka ini. Jangan mengeluarkan pasien-pasien ini dari rumah sakit hanya untuk menunjukkan betapa baiknya kita. ”
Seorang pengguna dari Wuhan mengatakan bahwa, di lingkungannya, satu pasien yang sembuh dinyatakan positif virus corona. Sementara yang lain mengatakan bahwa ia diperintahkan untuk bekerja dari rumah setelah dua orang dari lingkungannya dinyatakan positif.
Beberapa netizen di luar Wuhan juga menyuarakan keraguan.
"Apakah aku satu-satunya yang merasa ada yang ditutup-tutupi?" satu pengguna menulis.
Yang lain berkata, “Tidak ada pasien jika pemerintah mengatakan demikian. Penyakit ini dapat dicegah dan dikendalikan jika pemerintah mengatakan tidak ada penularan dari manusia ke manusia. ”
Putri seorang pasien virus corona yang bermarga Ho mengatakan kepada The Epoch Times, media yang berbasis di AS, bahwa keluarganya tidak bisa menemui ayahnya dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit.
Pihak rumah sakit mengatakan bahwa hasil tes uji virus corona ayahnya negatif, namun pihak RS tidak menyertakan hasil tes tertulis yang diberikan kepada keluarga.
Ayahnya berada di ruang isolasi karena mengalami gejala seperti pneumonia.
Keluarga itu juga mengeluh karena rumah sakit menagih pembayaran biaya perawatan ayahnya kepada keluarga.
Jurnalis warga Zhang Zhan berasal dari Shanghai dan telah melaporkan dari Wuhan sejak 1 Februari, curiga bahwa klaim pemerintah Wuhan tidak memiliki pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit tidak benar.
“Saya menemui seorang pasien, yang telah diuji negatif sembilan kali. Tetapi dia terus mengalami demam dan paru-parunya terus menderita kondisi peradangan, menurut CT scan-nya. Apa yang Anda katakan soal ini? Klaim nol pasien ini pasti palsu,” katanya.
(Rachmat Fahzry)