DELHI - Gelombang kecaman terhadap maraknya Islamofobia di India memaksa pemerintah di New Delhi bersikap. Usai Perdana Menteri Narendra Modi mengirim pesan yang menolak diskriminasi terhadap minoritas muslim, kini amanat serupa dirilis organisasi Hindu nasionalis RSS.
Ketua Umum Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), Mohan Baghwat, menyatakan tidak ada satu pun kelompok bisa disalahkan menyebar wabah COVID-19 hanya karena perilaku beberapa anggotanya, kata dia dalam sebuah pernyataan online yang dirilis kantor berita AP.
“Jangan marah, jangan tersulut. Kita tidak boleh membenci suatu kaum hanya karena kesalahan beberapa individu,” kata dia.
Bhagwat juga menjamin minoritas muslim India tidak akan mengalami diskriminasi atas dasar agama dalam perang melawan wabah corona.
Sebelumnya PM Narendra Modi menegaskan bahwa COVID-19 “tidak mengenal ras, agama, warna, kasta, bahasa atau batas negara,“ tulisnya lewat akun Twitter. “Kita bersama-sama.“
COVID-19 does not see race, religion, colour, caste, creed, language or borders before striking.
Our response and conduct thereafter should attach primacy to unity and brotherhood.
We are in this together: PM @narendramodi— PMO India (@PMOIndia) April 19, 2020
Ucapan tersebut dirilis usai negara-negara Teluk bereaksi dramatis terhadap meningkatnya ujaran dan praktik kebencian terhadap minoritas muslim di tengah wabah corona. Kecaman antara lain dilayangkan keluarga kerajaan Uni Emirat Arab dan Kuwait.
Eskalasi lewat medsos
Eskalasi berawal ketika warganet Arab mempermasalahkanretorika anti-muslim di media sosial oleh ekspatriat India yang bekerja di kawasan Teluk. Salah satu kicauan tersebut ikut digaungkan anggota keluarga kerajaan Uni Emirat Arab, Putri Hend al-Qassimi.
Siapapun yang “secara terbuka rasis dan diskriminatif di UAE akan didenda dan diusir,“ tulisnya di akun Twitter ketika mengomentari kicauan Islamofob seorang warga India. “Anda mencari makan di negeri yang Anda hina dan penghinaan Anda tidak akan dibiarkan.“
Anyone that is openly racist and discriminatory in the UAE will be fined and made to leave. An example; pic.twitter.com/nJW7XS5xGx
— Princess Hend Al Qassimi (@LadyVelvet_HFQ) April 15, 2020
Media-media India melaporkan beberapa tenaga kerja berkualifikasi tinggi di kawasan Teluk dipecat dari perusahaan usai mengunggah konten bernada anti-muslim.
Salah seorangnya, Sameer Bhandari yang bekerja untuk sebuah penyelenggara pesta terpaksa angkat kaki setelah menulis buruh migran India beragama Islam yang mencari pekerjaan seharusnya dipulangkan ke Pakistan, lapor kantor berita Press Trust of India.
India and UAE share the value of non-discrimination on any grounds. Discrimination is against our moral fabric and the Rule of law. Indian nationals in the UAE should always remember this. https://t.co/8Ui6L9EKpc
— Amb Pavan Kapoor (@AmbKapoor) April 20, 2020
Akibatnya duta besar India di kawasan mengimbau warganya untuk menahan diri. Melalui Twitter, Pavan Kapoor yang bertugas di Uni Emirat Arab menulis “diskriminasi mengoyak tenun moral kita dan melanggar konstitusi. Semua warga India di UAE sebaiknya mencamkan hal ini.“
Menurut laporan Times of India, jelang akhir pekan lalu Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar buru-buru menghubungi rekan sejawatnya di negara-negara Teluk untuk meredakan situasi.
Namun begitu media dan pemerintah India bersikeras mempertahankan asumsi bahwa tuduhan perihal laku diskriminatif terhadap minoritas muslim yang menyulut reaksi dramatis warganet Arab sebagai “kabar palsu.“