Sementara, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Silvina Mayasari mengaku harus ada kesadaran masing-masing dari mahasiswa. "Karena kalau dosennya aktif sementara mahasiswanya nggak ya susah juga. Harus ada timbal baliknya, jadi kita sama-sama sadar diri aja," ujar Silvina.
Apalagi, sambung Silvina saat ini memang dalam kondisi yang serba terbatas jadi bagaimana caranya bisa memaksimalkan. "Saya sebagai dosen bisa mengajar maksimal dan mahasiswa saya bisa mendapatkan materi dengan maksimal. Karena mereka ini kan membayar," tuturmya.
Sedangkan untuk hambatan belajar virtual pasti ada. Menurutnya terutama di daerah yang belum sepenuhnya akses internet bagus, lain hal bila di Jabodetabek.
"Di Jabodetabek itu mahasiswa saya kalau pertemuan pakai zoom mereka mengeluh 'bu jangan pakai zoom terus, kuota saya habis, sinyalnya gak stabil' karena zoom itu lumayan besar makan data," jelasnya.
Dengan begitu, untuk juga membantu beban mahasiswa, setiap dosen itu harus mampu mengkombinasi antara zoom, clas room atau pakai whatsapp group. Sehingga tidak terpaku pada satu aplikasi saja.
Tahun Ajaran Baru Ditunda?
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang kerap disapa Kak Seto menjelaskan bahwa banyak anak tertekan dan stres saat adanya pembelajaran di rumah.
Ia pun secara tegas meminta tahun ajaran baru ditunda satu semester, karena ia yakin, anak tak akan mencapai indikator pembelajaran jika terus belajar di rumah.
“Jadi mohon Kemendikbud memberlakukan kurikulum ini kurikulum darurat. Jadi jangan sepenuhnya dibebankan kepada anak sesuai dengan standar yang harus tercapai. Mungkin ya tahun ajaran baru diundur. Dulu tahun ajaran baru Indonesia masuk Januari, tapi ada situasi, kalau tak salah zaman G30s, sistem pembelajaran diundur satu semester,” ungkapnya kepada Okezone.