KUPANG - Wahana Visi Indonesia (WVI) menemukan sekitar 250.000 anak usia balita di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 260.000 anak tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Hal ini menyebabkan anak-anak di provinsi berbasis kepulauan itu rentan terpapar virus corona atau Covid-19.
Zonal Manager WVI Wilayah NTT, Eben Ezer Sembiring, Rabu (29/4/2020) menyampaikan, anak-anak mengalami dampak Covid-19 dan cenderung terabaikan.
Dia mengatakan, anak-anak NTT mengalami kerentanan tinggi karena minimnya akses akan sanitasi dan air bersih. Selain juga terbatasnya fasilitas dan kapasitas orangtua untuk mengajar anak di rumah, hingga kerentanan terhadap terjadinya kekerasan juga tinggi.
Karena itu Wahana Visi Indonesia (WVI) terus melakukan respon dalam membantu penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, terutama untuk memastikan terpenuhinya hak-hak anak.
Beberapa kondisi kerentanan anak-anak di NTT sebutnya, hanya 50,72% rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak (data susenas BPS 2018) dan hanya 64,79% rumah tangga memiliki akses terhadap layanan air minum layak dan berkelanjutan.
Kurang dari 40% anak di NTT hidup dalam rumah tangga yang tidak memiliki akses air bersih, sekitar 250.000 anak usia balita tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 260.000 anak tidak memiliki akses sanitasi yang layak. "Padahal dalam situasi pandemi, dibutuhkan akses air bersih untuk dapat menerapkan protokol kebersihan," katanya
Selain itu berdasarkan data BPS 2019, angka partisipasi murni untuk anak SMA/SMK pada tahun 2019 hanya sebesar 42,68% , dan SMP/Sederajat 67,98%. Hal itu berbeda dengan angka partisipasi anak SD/sederajat 96,21%.
Dikatakannya dalam situasi yang mengharuskan anak belajar secara mandiri dan online, anak-anak di NTT mengalami tantangan dengan terbatasnya fasilitas dan kapasitas orang tua dalam mendampingi belajar.
Belum lagi ditambah kondisi keterbatasan guru dan insitusi pendidikan dalam menyediakan kurikulum yang dapat diakses masyarakat di pedalaman.
"Anak-anak akhirnya berada dalam situasi yang sulit mengakses pembelajaran melalui radio, televisi dan telepon seluler," katanya menguraikan.