Cerita Sopir Taksi Bandara, Gadaikan Perhiasan Keluarga Demi Lanjutkan Hidup

Adi Rianghepat, Jurnalis
Kamis 30 April 2020 12:20 WIB
Bandara El Tari Kupang selalu ramai sebelum Virus Corona Datang (Markus/MNC Media)
Share :

KUPANG - Siang itu, sesosok sebut saja Ali (bukan nama sebenarnya) terlihat duduk mengantre di ruang tunggu salah satu kantor pegadaian Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menerapkan protokol kesehatan karena pandemi Covid-19, sopir taksi bandara ini pun duduk berjarak dengan pengantri lainnya. Dia pun menggunakan sebuah masker kain dan berjaket. Sesekali dia menengok sebuah benda yang dia genggam.

Memang tak terlihat ekspresi wajahnya, namun bisa dibayangkan Ali sedang kecewa juga sedih. Ya, dia agak kecewa bercampur sedih. Dia harus menggadaikan sebuah perhiasan milik keluarganya.

"Apa boleh buat bang. Saya sudah tak ada lagi simpanan dan penghasilan sejak larangan penerbangan dikeluarkan pemerintah," kata Ali agak berbisik.

Ya, Ali adalah salah satu dari banyak sopir taksi bandara yang harus setop mengais rezeki di tengah Pandemi Corona. Namun kebutuhan makan harus terus jalan dan tak pernah berhenti. Apalagi Ali bersama isteri dan dua anaknya harus melaksanakan ibadah puasa di bulan suci penuh berkah Ramadhan 1441 H ini.

"Kami tiada pilihan meskipun sedih. Puasa harus terus jalan bang," katanya lagi.

Dia mengaku hasil gadai ini akan dia jadikan modal bersama isterinya untuk menjaja sejumlah takjil berbuka. "Siapa sangka dari usaha (jualan takjil) itu bisa terus menjadi penyambung kehidupan keluarga saya sampai kondisi menjadi normal," katanya.

Ali adalah salah satu dari sekian banyak pekerja seprofesi (sopir taksi) yang mendapat imbas karena pandemi covid-19. Pemerintah nasional maupun lokal (provinsi) pun melarang aktivitas penerbangan penumpang, baik domestik maupun internasional. Hal itu untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan di Tiongkok itu.

Sejak kebijakan (pelarangan penerbangan) itu keluar, Ali pun harus parkir. Tak ada yang bisa dilakukan. Ali sendiri mengaku mendukung kebijakan penutupan sementara penerbangan tersebut demi kebaikan seluruh orang. Karena menurut dia, jika penerbangan terus jalan apalagi jelang mudik saat Lebaran ini, bukan tidak mungkin akan memberi dampak negatif.

"Siapa sangka penyebaran virus di kota ini akan tak terbendung karena arus orang keluar dan masuk daerah ini. Boleh jadi kita sebagai supir pun bisa terpapar," katanya.

Menurut dia pandemi datang di kala umat muslim sejagat harus berpuasa, akan menjadi refleksi imani selama beribadah. "Saya merasa musibah ini kunci bagi saya dan keluarga untuk lebih tekun lagi beribadah. Ibadah harus lebih ikhlas lagi kepada-Nya," ucapnya.

Segala persoalan yang sedang dia dan keluarganya alami di bulan suci ini adalah jalan untuk tetap tekun berdoa. "Saya melihatnya (musibah setop bekerja) ini secara iman saya. Saya harus terus tekun beribadah. Dan inilah bulannya yang penuh rahmat dan berkah," katanya.

Cerita Ali si sopir taksi bandara yang harus setop karena pandemi covid-19 pun harus usai. Dia harus melakukan transaksi gadai untuk memenuhi segala kebutuhan dan rencana keluarganya di bulan Ramadhan ini.

"Beribadah, berpuasa dan tetap tawakal harus terus dijalani. Namun musibah covid harus berakhir agar kehidupan kembali normal," ucapanya sebelum menuju meja transaksi.

Ya, sama seperti Ali, tentu seluruh warga dan bangsa bahkan dunia ini berharap prahara pandemi covid-19 ini segera berlalu. Seperti kata Ali, doa adalah kekuatan maha-dahsyat untuk berlalunya pandemi ini

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya