SEJUMLAH negara di Eropa mulai melonggarkan sebagian pembatasan yang diberlakukan untuk menekan penyebaran virus corona. Itu dilakukan dalam upaya untuk menggairahkan kembali ekonomi yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19.
Setelah lockdown atau karantina wilayah delapan minggu, Prancis mulai Senin (11/5/2020) memperbolehkan lagi warga keluar tanpa surat izin dan mengizinkan sebagian toko buka. Seperti di banyak tempat, pendekatannya sangat berhati-hati. Bar, restoran dan bioskop masih tutup.
Turki membuka kembali mal-mal mulai Senin, tapi siapapun yang datang diperiksa suhunya dan wajib mengenakan masker. Kapasitas toko-tokonya juga dibatasi.
Spanyol, Belgia dan Yunani juga melonggarkan pembatasan Senin.
Orang-orang diperbolehkan makan di luar ruangan di Spanyol mulai Senin, sementara sebagian anak-anak di Belanda dan Swiss kembali ke sekolah. Sebagian negara bagian di Jerman membuka kembali sasana kebugaran.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan Senin bahwa mulai Selasa (12/5/2020) negara itu akan membuka kembali ekonominya, mulai bekerja lagi di pabrik-pabrik industri dan tempat konstruksi. Kebanyakan bisnis dalam industri jasa, termasuk salon dan toko yang tidak jual makanan, akan tetap tutup.
Selandia Baru, yang memberlakukan lockdown ketat selama hampir lima minggu untuk mencegah penyebaran virus, akan melonggarkan pembatasan Kamis 14 Mei nanti. Warga akan diperbolehkan pergi ke restoran, bioskop dan mal.
Korea Selatan, yang selama berminggu-minggu memiliki angka infeksi baru yang rendah, melaporkan lebih dari 30 kasus baru untuk hari kedua berturut-turut Senin. Kebanyakan kasusnya terkait dengan wabah di kelab malam dan bar di Seoul, tapi para pejabat khawatir virus korona akan merajalela lagi setelah berhasil dikendalikan.
Sejumlah upaya pelonggaran akan dimulai Selasa 12 Mei di India, dengan mengoperasikan beberapa jalur kereta untuk pertama kalinya sejak akhir Maret. Tapi India juga melaporkan kenaikan kasus tertinggi terbanyak dalam sehari pada Senin. Dengan demikian total kasus menjadi lebih dari 67.000, menurut statistik Universitas Johns Hopkins.
AS masih memiliki jumlah kasus serta kematian terbanyak di dunia.
Di seluruh dunia, jumlah kasus virus korona telah melebihi 4.1 juta. Jumlah kematian global lebih dari 282.000, menurut statistik Universitas Johns Hopkins.
(Salman Mardira)