Reisa pun mengatakan, bahwa berita baiknya dimana berdasarkan data yang dihimpun oleh tim pakar perubahan peta zonasi risiko rendah dan tidak terdampak meningkat tajam.
“Per 31 Mei 2020 jumlahnya 46,7 persen dari setengah kabupaten/kota di Indonesia. Namun per 28 Juni 2020 ada di tingkat 55,25 persen,” ungkapnya.
Lalu, apa kunci pergerakan warna zona? Reisa mengatakan, pertama pengawasan ketat oleh pemerintah daerah. Kedua kedisiplinan seluruh anggota masyarakat mulai dari para tokoh agama dan budaya, akademisi, dunia usaha serta media massa.
Ketiga, visi bahwa daerah yang lebih sehat akan membuat masyarakat lebih produktif dan wilayah tersebut kompetitif. “Baik dari sisi kualitas sumber daya manusia maupun dari sisi persepsi positif citra daerah tersebut,” kata Reisa.
Kata Reisa, keberhasilan bersama melalui pandemi ini hanya bisa diraih lewat gotong-royong, bekerja bersama mendisiplinkan diri, melakukan perubahan menerapkan adaptasi kebiasaan baru.
“Ingat jaga jarak aman satu sampai dua meter, pakai masker dengan benar, cuci tangan minimal 20 detik dan menjalankan perilaku hidup bersih dan gaya hidup sehat. Yuk, semangat berlomba jadikan wilayah kita jadi zona hijau. Lingkungan kita berisiko rendah dan akhirnya kita semua terbebas dari Covid-19 kita pasti bisa, kita harus bisa,” tegas Reisa.
(Awaludin)