Zainut mendorong agar madrasah dan pesantren terus melakukan inovasi-inovasi dalam proses keberlangsungan pendidikan di tengah pandemi corona.
Inovasi virtual, lanjutnya, juga mewabah di tengah masyarakat. Bahkan, pengajian emak-emak pun telah memakai zoom. Tukang sayur juga menawarkan dagangan dengan online. Para ustadz marak mengisi pengajian dengan virtual.
Pesantren pun kini mulai membuka kembali proses pembelajarannya, sehingga para santri berduyun kembali ke pondok. Di era Pandemi ini, ada pesantren yang ketat menerapkan protokoler kesehatan misalnya satu kamar diisi 2-4 santri, namun banyak pula satu kamar diisi hingga 20 santri karena keterbatasan fasilitas kamar.
"Namun secara umum santri kembali menyantri dinilai lebih aman dari serangan Covid-19 daripada mereka di luar pesantren. Maka banyak orang tua yang gembira ketika pesantren kembali dibuka untuk belajar para santri," kata Wamenag.
(Awaludin)