Tekan Depresi Siswa Akibat Pandemi, KPAI Minta Sekolah Buka Layanan Konsultasi

Neneng Zubaidah, Jurnalis
Senin 19 Oktober 2020 14:46 WIB
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Komisioner bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mendorong peranan sekolah yang lebih besar untuk mendampingi siswa agar tidak mengalami depresi selama masa pandemi ini.

Retno mengatakan, KPAI mendorong peran sekolah dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah mental atau psikologis akibat pandemic Covid 19 yang sudah mencapai 7 bulan ini. Peran wali kelas dan guru bimbingan konseling, ujar Retno, menjadi sangat strategis dalam membantu anak-anak yang memiliki masalah psikologi, termasuk kesulitan dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

BACA JUGA: Siswa Bunuh Diri karena Sekolah Daring, Ini Kata Psikolog

‘’Konsultasi dapat dilakukan melalui aplikasi whatsApp atau aplikasi lain yang mudah dijangkau guru dan anak-anak. Kerap kali, anak-anak hanya butuh didengar, ada saluran curhat selain ke sahabatnya, bisa juga ke guru BK dan wali kelas agar dapat diberikan solusi yang tepat,” kata Retno melalui keterangan tertulis, Senin (19/10/2020).

Mantan kepala sekolah ini menambahkan, peran orangtua sangat besar dalam mencegah depresi pada anak. Suasana yang tidak nyaman atau pertengkaran dengan teman mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa. Namun, dia mengatakan, berbeda jika kondisi tersebut dialami oleh remaja. Menurut dia, jika dibiarkan berlarut-larut, suasana tidak nyaman ini bisa memicu depresi pada kalangan remaja.

Retno menuturkan, remaja memang sering mengalami perubahan suasana hati atau mood. Itulah sebabnya, remaja yang terlihat murung atau sedih sering kali dianggap hal biasa, misalnya karena patah hati, mendapat nilai jelek, atau merasa kurang perhatian dari orang tua. Padahal, bisa jadi itu gejala depresi pada remaja.

BACA JUGA: Apakah Sekolah Daring Bikin Anak Jadi Anti-Sosial?

‘’Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berlanjut dan menyebabkan munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) meluncurkan buku penanganan gangguan psikososial pada peserta didik. Buku ini diharapkan bisa mendeteksi dini peserta didik yang mengalami gangguan psikososial. Buku panduan ini akan membantu pihak sekolah, guru kelas, guru BK dan guru PJOK (Pendidikan, Jasmani, Olahraga dan Kesehatan) dalam deteksi dini dan penanganan peserta didik dengan gangguan psikososial.

Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA Nahar mengatakan, kondisi akibat Pandemi Covid-19 dan juga tekanan yang terjadi pada anak dan keluarga anak harus bisa dideteksi agar anak bisa terpantau dengan baik sehingga bisa terlindungi dan dipenuhi hak-haknya.

Nahar menjelaskan, hasil survei Kemen PPPA beberapa waktu lalu menyebutkan 80 % anak-anak menyebutkan bahwa mereka sudah mulai jenuh belajar dari rumah.

Mereka mulai jenuh karena tidak bisa bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Kemudian juga ada catatan lain seperti anak yang ikut merasa tertekan karena takut orang tuanya kehilangan pekerjaan. Dan kondisi dan situasi lainnya yang menyebabkan anak merasa terjebak dan tertekan kondisi psikisnya.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya