5 Fakta Buku How Democracies Die yang Dibaca Anies Baswedan

Tim Okezone, Jurnalis
Selasa 24 November 2020 09:01 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (foto: IG Anies)
Share :

4. Buku Terlaris 2018

Buku ini membahas bagaimana demokrasi telah berubah menjadi kediktatoran sepanjang sejarah dengan penekanan pada Amerika Latin. Tak teran, buku ini menjadi buku terlaris New York Times, New York Times Book Review Editor’s Choice, dan salah satu Best Books of the Year So Far Newsweek pada 2018 tak lama setelah diterbitkan.

5. Lembaga Pengadilan dan Hancurnya Norma

Lalu pada Bab 4 dan 5, buku ini mengeksplorasi peran lembaga dan norma dalam melestarikan demokrasi. Lembaga-lembaga seperti pengadilan seharusnya menjaga pemimpin otokratis tetap terkendali, tetapi mereka dapat dikenakan dalam langkah-langkah kecil. Seringkali hal itu mnejadi kedok meningkatkan demokrasi.

Buku How Democracies Die menjelaskan bahwa norma sama pentingnya dan rentan terhadap subversi oleh autokrat. Para penulis berfokus pada dua bagian khusus, toleransi bersama dan forbearance institusional, dan berpendapat beberapa kerusakan demokrasi paling tragis dalam sejarah didahului oleh merendahkan norma-norma dasar.

Setelah menetapkan bagaimana pentingnya norma, kemudian pada bab 6, penulis memeriksa peran yang mereka mainkan dalam demokrasi Amerika. Penulis menggambarkan bagaimana pada masa-masa awal demokrasi Amerika, norma-norma tidak terlalu kuat.

Namun, seiring berjalannya waktu (dan ketika negara-negara Bagian Selatan diizinkan untuk menghapus hak-hak sipil dan suara dari Orang Afrika Amerika) norma-norma diperkuat, mengamankan demokrasi dan sistem checks and balances.

Namun, Bab 7 buku ini mengeksplorasi bagaimana norma-norma ini telah hancur dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini dikarenakan Partai Republik dan Demokrat menghalangi penunjukan peradilan, politisi menyebut saingan sebagai pengkhianat dan anti-Amerika, dan presiden menggunakan tindakan eksekutif untuk melewati Kongres.

Pada Bab 8, penulis juga mengeksplorasi bagaimana Trump telah mempercepat proses tersebut, misalnya mencoba berbagai strategi dari playbook otoriter pada tahun pertamanya menjabat.

Pada bab terakhir, penulis menawarkan cetak biru untuk membalikkan penurunan demokrasi di Amerika Serikat, yaitu dengan mendorong nilai-nilai toleransi bersama dan kelembagaan.

Untuk itu, para penulis menyarankan perlunya koalisi warga yang beragam yang bersatu dalam pertahanan demokrasi mereka. Mereka juga menyarankan reformasi Partai Republik, untuk mengurangi pengaruh donor luar dan media sayap kanan serta ketergantungan partai pada menarik nasionalisme kulit putih.

Terakhir, politisi harus mengurangi ketimpangan ekonomi yang berkembang yang memicu polarisasi dan kebencian.

(Amril Amarullah (Okezone))

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya