Sejahtera finansial menjadi impian setiap orang. Apalagi bisa memiliki rekening dan menabung di bank merupakan suatu pencapaian untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Menjadi bagian dari ekosistem Grab dapat meningkatkan akses mitra kepada layanan jasa keuangan.
Cukup banyak mitra pengemudi GrabBike dan mitra pengemudi GrabCar membuka rekening tabungan pertama mereka ketika bergabung dengan Grab. Lebih penting lagi, kesempatan pemasukan yang ditawarkan Grab telah memungkinkan lebih banyak mitra untuk menabung secara rutin. Hal ini juga telah memberi mereka kesempatan untuk mengajukan pinjaman agar dapat mengembangkan bisnisnya atau berinvestasi pada motor atau mobil baru.
Seperti kisah seorang mitra GrabCar, Hamka Didit Ardiansyah yang berusaha mengejar materi sekaligus mengutamakan keberkahan agar bermanfaat untuk menafkahi keluarganya. Pria berusia 33 tahun ini telah merasakan getirnya hidupnya menjadi tulang punggung keluarga sejak ia ditinggal wafat oleh ayahnya pada 2005 silam. Saat ia masih di bangku Sekolah Dasar, ibunya telah lebih dulu berpulang ke hadapan Sang Pencipta.
Kondisi tersebut memaksanya untuk menjadi pengganti sosok ayah bagi keempat saudara perempuannya. Hamka pun tak punya pilihan, ia rela tak meneruskan pendidikannya dan hanya berakhir di jenjang SMA.
"Saya tidak mau egois. Biarlah mereka yang melanjutkan sekolah. Saya sebagai anak laki-laki harus bertanggung jawab kepada adik dan kakak saya," ujar anak ketiga ini saat ditemui di salah satu warkop yang terletak di wilayah Sam Ratulangi Makassar.
Hamka pun mengawali karirnya sebagai seorang pekerja toko. Lalu, ia bergabung dengan salah satu perusahaan yang memiliki ragam lini bisnis, mulai koperasi, properti, bimbingan belajar (bimbel) hingga merambah pertambangan. Menjadi orang kepercayaan pimpinan toko, Hamka pernah ditempatkan di hampir semua lini bisnis itu.
"Saat bekerja di properti, posisi terakhir saya sebagai pengawas. Di bimbel saya pernah menjabat sebagai Direktur. Hanya kalau gaji tidak pernah di atas Rp3 juta," katanya mengakui.
Namun perusahaan di mana tempat Hamka bekerja, perlahan menunjukkan kinerja yang kurang baik, sehingga berpengaruh ke gaji karyawan. Merasa kebutuhan keluarga tetap harus terpenuhi, namun penghasilan tidak mencukupi, Hamka pada akhirnya memilih angkat kaki.
Foto: Dok.Grab Indonesia
"Dari situ saya ikut teman. Bisnis jual beli barang elektronik bekas saat itu," ujarnya. Bisnis barang elektronik yang dilakukan oleh Hamka bersifat musiman. Tentu saja tidak begitu bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan dapur.
Namun di saat bersamaan, tepatnya pada 2017 lalu, Grab tengah gencar menggaet mitra pengemudinya. Hamka pun tertarik untuk bergabung sebagai mitra pengemudi GrabCar.
"Awal-awal saya bergabung dengan GrabCar, saya pakai mobil mertua, kurang lebih dua bulan lamanya. Setelah menjalaninya, saya pikir penghasilan saya sangat menjanjikan, makanya saya berani keluarkan mobil sendiri," ucap Hamka.