Dwikorita mengatakan, saat ini Indonesia bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami dua hingga tiga menit setelah gempa terjadi. “Saat terjadi tsunami di Palu, Indonesia masih ketinggalan. Saat itu peringatan dini baru dikeluarkan pada menit kelima setelah gempa bumi. Nah saat ini sudah menit kedua, ketiga,” katanya.
Namun, saat ini Dwikorita mengatakan Indonesia belum mempunyai alat deteksi tsunami yang diakibatkan bukan oleh gempa bumi. “Tapi, saat ini masih ada yang kurang. Saat ini sistem peringatan dini belum mampu mendeteksi saya katakan 90%. Karena 10% itu saya katakan adalah tsunami yang diakibatkan bukan oleh gempa bumi,” ujarnya.
“Sehingga, kita perlu meningkatkan teknologi lagi ini bersama BPPT dan kerjasama dengan beberapa negara maju. Teknologi yang bisa mendeteksi tsunami yang tidak diakibatkan gempa bumi. Misalnya Selat Sunda, itu tidak bisa dideteksi karena tidak diakibatkan gempa bumi. Nah, sekarang BPPT sedang melakukan eksperimen deteksi tsunami akibat erupsi gunung api,” kata Dwikorita.
(Erha Aprili Ramadhoni)