JAKARTA - Amerika Serikat (AS) dan Iran tampaknya semakin dekat untuk mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri perang, yang pecah pada 28 Februari. Konflik yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Teheran ini telah memicu rangkaian pembalasan Iran yang menargetkan Israel serta sekutu AS di Teluk, serta penutupan Selat Hormuz yang telah memukul ekonomi dunia.
Baik AS maupun Iran telah menyampaikan “perkembangan positif” dalam pembicaraan, meski beberapa isu kemungkinan belum akan bisa disepakati dan akan dinegosiasikan selanjutnya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa Teheran akan menyusun nota kesepahaman yang merupakan semacam perjanjian kerangka kerja, sebelum kesepakatan akhir dinegosiasikan dan diharapkan tercapai dalam waktu 30 hingga 60 hari.
Berikut beberapa hal yang sejauh ini telah diketahui mengenai kemungkinan kesepakatan tersebut.
Baghaei mengatakan bahwa isu nuklir bukanlah bagian dari kerangka kerja awal dan akan "menjadi bahan diskusi terpisah" pada tahap selanjutnya. Di sisi lain, AS menegaskan bahwa Washington menginginkan komitmen nyata dari Teheran untuk menyerahkan persediaan uranium yang sangat diperkaya.
Kantor berita Fars dan Tasnim Iran melaporkan bahwa Iran tidak membuat komitmen apa pun terkait program nuklir mereka dan mengatakan bahwa isu-isu terkait nuklir akan dinegosiasikan dalam waktu 60 hari setelah kesepakatan ditandatangani.
Selat Hormuz menjadi salah satu poin terpenting yang menjadi kendala dalam negosiasi antara Iran dan AS. Iran bersikeras bahwa kapal harus mendapatkan izin dari angkatan bersenjatanya, sementara AS menuntut Teheran untuk mengembalikan Selat Hormuz ke statusnya sebelum perang, yang ditolak tegas oleh Iran.
Kantor berita Fars mengatakan bahwa, jika diselesaikan, perjanjian potensial tersebut akan mempertahankan kendali Iran atas jalur air strategis tersebut. Sementara blokade Angkatan Laut AS atas pelabuhan Iran harus dicabut sepenuhnya dalam waktu 30 hari.
Iran telah lama menuntut pembebasan aset-asetnya yang dibekukan di bawah sanksi AS yang telah berlangsung lama. Kantor berita Tasnim mengutip sumber yang mengetahui masalah ini melaporkan bahwa Iran "telah menekankan bahwa tidak akan ada kesepakatan kecuali sebagian aset Iran yang dibekukan dibebaskan pada tahap pertama".
Sementara kantor berita Fars menyebutkan kesepahaman potensial juga akan mencakup pencabutan sementara sanksi AS terhadap minyak, gas, dan petrokimia selama periode negosiasi.