Lebih lanjut Emil mengatakan, kondisi surplus beras yang dialami Jabar tak lepas dari kurangnya penyerapan oleh Bulog. Dia mencontohkan, di Cirebon, Bulog biasanya membeli 130.000 ton beras, namun kini hanya 21.000 ton.
"Masa sudah beras banyak, impor pula. Kalau posisinya krisis beras, saya kira masuk akal. Tapi ini kan surplus. Jangan sampai kebijakan impor beras ini menghantam kesejahteraan petani. Maka kami mengusulkan ke pemerintah, agar menunda beras impor, maksimalkan saja produksi Jabar yang melimpah," papar Emil seraya menekankan, impor beras sebaiknya hanya dilakukan saat ada potensi krisis pangan.
Emil menambahkan, impor beras pun akan sangat berpengaruh pada kesejahteraan petani, sehingga diperlukan manajemen penyediaan pangan yang baik dan teliti.
"Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kesejahteraan petani dengan menunjukkan keberpihakan terhadap produk pertanian dalam negeri," kata Emil.
(Awaludin)