Milenial Sasaran Utama Perekrutan Teroris

Tim Okezone, Jurnalis
Kamis 01 April 2021 09:05 WIB
Webinar "Tantangan Indonesia Menghadapi Intoleransi dan Terorisme"
Share :

JAKARTA - Serangan teror Mabes Polri dilakukan seorang wanita berusia 26 tahun. Serangan bom Makassar juga dilakukan pasangan milenial yang masih berusia 26 tahun. Generasi muda ini merupakan sasaran utama perekrutan teroris. Mereka adalah korban dari penetrasi ideologi kekerasan global yang masuk ke Indonesia.

“Milenial kebanyakan masih mencari jati diri dan mengikuti arah pihak yang paling berpengaruh,” ujar analis militer dan intelijen Dr Susaningtyas Kertopati dalam Webinar The Indonesia Intelligence Institute, Rabu (31/03).

Menurut Nuning, sapaan akrabnya, pola rekrutmen saat ini berkembang menjadi lebih terbuka gunakan ruang publik, seperti sekolah, kampus, dan perkumpulan kegiatan kegiatan keagamaan.”

"Karena itu, pemerintah juga harus melibatkan milenial sebagai upaya melakukan pencegahan agar tidak ada perekrutan baru,” ujar doktor bidang komunikasi intelijen Unpad tersebut.

Nuning menjelaskan dalam menganalisis kejadian terorisme harus holistik. “Kejadian bom bunuh diri itu tentu saja sinyal bahwa mereka ingin menunjukkan eksistensinya. Oleh karena itu harus dikenali embrio terorisme di Indonesia itu apa saja,” ujarnya dalam diskusi yang juga disiarkan melalui channel Youtube Ridlwan Djogja itu.

Selain melibatkan milenial, pemerintah diharapkan melibatkan tokoh tokoh publik. “Rekrutmen terorisme selain dilakukan tertutup, juga ada ruang publik yang dipakai dalam proses penjaringan seperti di media sosial,” ujar Nuning.

Yang juga perlu diwaspadai adalah proses yang disebut enabling environment yaitu menormalisasi hal yg tidak normal dirasa normal. "Ini tidak boleh disepelekan dan harus jadi perhatian serius semua kalangan, " ujar wanita yang juga aktif sebagai aktivis sosial kemanusiaan ini.

Baca Juga : Begini Kondisi Terkini Gedung Mabes Polri Pasca-Penyerangan Terduga Teroris

Mantan anggota DPR itu juga menjelaskan, militer dapat dilibatkan dalam penanganan terorisme. Penanganan terorisme di Indonesia selama ini cenderung masih dalam klasifikasi kejahatan terhadap publik sehingga cenderung ditangani Polri semata. Jika terorisme mengancam keselamatan Presiden atau pejabat negara lainnya sebagai simbol negara, terorisme tersebut menjadi kejahatan terhadap negara dan harus ditanggulangi TNI.

Pembicara lainnya, Alto Labetubun menjelaskan di Timur Tengah, kelompok teroris menggunakan berbagai platform teknologi untuk menjaga eksistensi organisasinya. “Walaupun secara wilayah ISIS tidak lagi menguasai Suriah, namun mereka masih punya sistem di dunia cyber atau cyber daulah,” ujar analis keamanan yang hampir 20 tahun bertugas di Irak dan Suriah tersebut.

Alto berharap aparat pemerintah lebih melibatkan berbagai potensi masyarakat untuk mencegah terorisme. "Banyak anak bangsa yang jago-jago, misalnya ahli hacking yang punya jiwa merah putih,” katanya.

Baca Juga : Hasil Autopsi: Penyerang Mabes Polri Tewas Usai Terkena Tembakan di Jantung

Pembicara ketiga Stanislaus Riyanta menyoroti pendapat beberapa akun media sosial yang menyebut aksi terorisme di Makassar sebagai rekayasa. "Pendapat itu berbahaya dan provokatif. Aparat keamanan harus memeriksa provokator yang menyebut bom sebagai rekayasa,” ujar alumni S2 Kajian Intelijen Universitas Indonesia tersebut.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya