Pembicara lainnya, Alto Labetubun menjelaskan di Timur Tengah, kelompok teroris menggunakan berbagai platform teknologi untuk menjaga eksistensi organisasinya. “Walaupun secara wilayah ISIS tidak lagi menguasai Suriah, namun mereka masih punya sistem di dunia cyber atau cyber daulah,” ujar analis keamanan yang hampir 20 tahun bertugas di Irak dan Suriah tersebut.
Alto berharap aparat pemerintah lebih melibatkan berbagai potensi masyarakat untuk mencegah terorisme. "Banyak anak bangsa yang jago-jago, misalnya ahli hacking yang punya jiwa merah putih,” katanya.
Baca Juga : Hasil Autopsi: Penyerang Mabes Polri Tewas Usai Terkena Tembakan di Jantung
Pembicara ketiga Stanislaus Riyanta menyoroti pendapat beberapa akun media sosial yang menyebut aksi terorisme di Makassar sebagai rekayasa. "Pendapat itu berbahaya dan provokatif. Aparat keamanan harus memeriksa provokator yang menyebut bom sebagai rekayasa,” ujar alumni S2 Kajian Intelijen Universitas Indonesia tersebut.
(Erha Aprili Ramadhoni)