Menurutnya, Jangka Jayabaya adalah hasil terjemahan Pujangga besar : R.Ng Ranggawarsita ( 1804-1873 M/ sastrawan, filsuf dan juga peramal) dari hasil karya -karya ramalan Prabu Jayabaya yang telah dikumpulkan pustaka kraton Surakarta, sehingga yang digunakan adalah bahasa Jawa sekarang, bukan aslinya Bahasa Jawa Kuno.
Ramalan-ramalan itu antara lain tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi, mana yang benar mana yang asli,para pertapa semua tak berani, takut menyampaikan ajaran benar, salah-salah dapat menemui ajal.
Banjir bandang dimana-mana gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu. Sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa dia sebenarnya.
Ramalan lain tentang gejala jaman, isalnya jaman Kali-Swara dibagi menjadi, Kala-kukila100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur atau memerintah.
Kala-buddha(th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang Agadnata (Batara Guru).
Kala-brawa (th. 201 - 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada dewa, sebab banyak Dewa yang turun ke bumi menyiarkan ilmu.
Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang,telaga, dan sebagainya.
Kala-swabara(th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.
Kala-rebawa(th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian kesenian.
Kala-purwa(th. 601-700): Banyak keturunan orang besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.
(Sazili Mustofa)