JAKARTA - Film Darah dan Doa (The Long March [of Siliwangi] atau Blood and Prayer) ialah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang diproduksi pada tahun 1950. Film ini merupakan film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara.
Kisah film ini berasal dari kidah nyata. Skenario ditulis penyair Sitor Sirumorang. Film menceritakan seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada salah seorang gadis Jerman di tempat pengungsian.
Baca Juga: Jayabaya Bisa Disejajarkan dengan Archimedes atau Isaac newton
Film ini mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit divisi Siliwangi RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah Yogyakarta diserang dan diduduki pasukan Kerajaan Belanda lewat aksi polisionil.
Operatie Kraai (Operasi Gagak), tentara Belanda berhasil menguasai Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu.
Baca Juga: Siapa Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan yang Legendaris?
Pejuang Siliwangi melaksanakan perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam Perintah Siasat No.1 pada Mei 1948: harus kembali bergerak ke Jawa Barat dan melakukan perlawanan.
Setelah penyerbuan Belanda ke Lapangan Udara Maguwo, Yogya, sandi 'Aloha' disebar. Tanpa sempat beristirahat dari operasi penumpasan PKI Muso di Madiun, Jawa Tengah, pasukan Siliwangi sudah bersiap dan bergerak kantong perlawanan, atau werhkreise, yang sudah disusun Jenderal Soedirman.