"Penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa," tambah pihak pesantren.
Pesantren Tebuireng menuntut Kemendikbud untuk menarik kembali naskah tersebut. Selanjutnya, meminta Kemendikbud meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia.
"Kemendikbud meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas kecerobohan dan kelalaian dalam penulisan kamus tersebut,” pungkasnya.
(Qur'anul Hidayat)