"Saya tidak dapat menemukan pembenaran atas cara saya diperlakukan dalam Perjanjian Eropa. Jadi, saya harus menyimpulkan, itu terjadi karena saya seorang wanita. Apakah ini akan terjadi jika saya mengenakan jas dan dasi? Dalam gambar pertemuan sebelumnya, saya tidak melihat adanya kekurangan kursi. Tapi sekali lagi, saya juga tidak melihat seorang wanita pun dalam foto-foto ini,” terangnya.
Dalam pidatonya pada Senin (26/4), von der Leyen tidak secara terbuka menyalahkan Erdogan atau Michel atas insiden tersebut.
Tapi dia mengaku merasa "terluka dan ditinggalkan sendiri", sebagai "seorang wanita dan sebagai orang Eropa".
“Karena ini bukan tentang pengaturan tempat duduk atau protokol. Ini adalah inti dari siapa kita. Ini mengacu pada nilai-nilai yang diperjuangkan Serikat kita. Dan ini menunjukkan seberapa jauh kita masih harus melangkah sebelum perempuan diperlakukan setara,” lanjutnya.
Dia mengatakan dirinya menggunakan pertemuan itu untuk mengungkapkan "keprihatinan mendalam" tentang penarikan diri Turki dari Konvensi Istanbul, sebuah kesepakatan internasional yang dirancang untuk melindungi perempuan.
Dia menegaskan melindungi perempuan dari kekerasan akan tetap menjadi "prioritas" untuk Komisi "- cabang eksekutif UE.
Sementara itu, saat berbicara kepada parlemen, Michel kembali menyatakan penyesalannya atas situasi tersebut, yang menurutnya telah menyinggung banyak wanita. Dia juga mengatakan kepada anggota parlemen bahwa hubungan ekonomi yang lebih dalam dengan Turki sulit karena memburuknya hak-hak dasar dan kebebasan di Turki, termasuk perempuan.
Insiden ini pun sempat dibandingkan dengan pertemuan di Brussel pada 2017 lalu. Pada kesempatan itu, kedua orang yang memimpin Komisi dan Dewan Eropa duduk di samping presiden Turki di kursi berlengan yang nyaman.
(Susi Susanti)