DALAM kitab Carita Sejarah Lasem diceritakan, pada masa Kutha Lasem dipimpin oleh Akuwu Mpu Metthabadra pada tahun 1345 M keadaan Lasem masih aman dan tenteram. Tidak ada negeri lain yang menjajahnya.
Baru pada masa Wilwatikta diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk, Akuwu Lasem Mpu Metthabadra ditaklukkan oleh pasukan pimpinan Patih Arya Gajah dan Lasem berada di bawah imperium Majapahit. Kemudian pemerintahan kerajaan Lasem diserahkan kepada Dewi Indu,
Saat itu, semua tanah sepanjang timur bengawan dan semua pulau-pulau se-Nusantara menjadi daerah kekuasaan Prabu Hayam Wuruk ; kedua pemerintahan tersebuah menjadi satu di bawah kekuasaanNgawantipura Wilwatikta (Kerajaan Majapahit).
"Sang Prabu Putri Lasem seperti Bathari Bodhisatwa Awalokiteswara, yang selalu memberi pengayoman dan memberi keberuntungan kepada rakyat semua. Para Punggawa kerajaan sujud dan berbakti, para rakyat memuji dan meluhurkan namanya,"ungkap Koh Lam, penggiat sejarah Lasem.
Kerajaan Lasem begitu sejahtera, gemah ripah loh jinawi, menghadap laut di kelilingi gunung dan perbukitan, di belakang hutan pejaten, tergelar sawah yang berbanjar, membentang sayup dan teduh sampai habis penglihatan mata.
Lereng gunung Argapura tampak bergerumbul beraneka macam pohon-pohonan. Menjadi rumah bagi berbagai hewan yang berlari-larian.
Di setiap pagi terdengar suara burung merak yang bernyanyi merdu, ayam hutan yang berteriak membahana; burung-burung mengoceh dan makan dari buah beringin dan buah dhuwet atau buah trenggulun, yang tampak lebat dan matang-matang.
"Kota Lasem tampak asri dan sejahtera, karena begitu banyaknya pohon buah-buahan yang di tanam sepanjang jalan,"ungkapnya.
Kraton Dalem bertempat di bumi Kriyan, taman-sari balekambang Kamalaputri berada di sebelah tenggara Kraton; banyak pohon kamal-tropong yang tumbuh lebat.
Sepanjang kerajaan banyak ditanami pohon sawo kecik, setiap perempatan dan pertigaan jalan ditanam pohon beringin.
Setiap halaman rumah tampak pohon kelapa gadhing punyung sepasang, yang buahnya bergelantungan, lebat dan berjejal-jejalan ; tersisipi bunga-bunga beraneka warna ; mawar, melati, gambir, ketongkeng, arumdalu (sedap malam), kemuning dan pacar printhil.
"Di sebelah kanan kiri rumah ada pohon sawo manela, mangga golek, jambu lumut dan jambe,"ucapnya.
Baca Juga : Air Batu Quran Pandegelang Dipercaya Bikin Awet Muda
Di pekarangan desa berjajar pohon-pohon dengan buah bergelantungan; pohon nangka, blimbing, kelapa dan lain sebagainya.
Sepanjang kebon, ladang, ditanami pohon bogor (pohon siwalan); menghasilkan legen (nila pohon siwalan), siwalan dan lontar.
Lontarnya digunakan untuk menulis catatan, cerita ataupun pustaka sabda dan tembang-tembang yang digubah. Legen (nila siwalan) dibuat untuk gula atau badheg.
Di antara pohon-pohon bogor atau siwalan ini ditanami pohon randu yang dirambati tanamanan suruh yang hijau dan segar, suruh ini dipakai untuk jamu atau obat sakit perut.
Rumah pembesar dan pejabat di bagian depan tampak asri pohonan sinom dan daun asam muda di belakang joglo, rumah Gebyog dari kayu jati yang dihiasi ukiran kekembangan.
Rumah para abdi dalem di sekeliling kota, rumah dara-gepak tampak asri bagus dengan pagar anyaman bambu ori yang bersimpul anyam-anyaman limang pakan, yang menjadi lambang dari “Pancawignya” (yaitu: Gotrah (pemimpin Keluarga), Pekah, Pomah (Keluarga), Kradah (Sanak Saudara), dan Pamerintah).
Dalem Kraton di tata dengan berbagai hiasan, landasan Saka-Guru dari Watu Selad yang dipahat dan diukir dengan motif Kembang Tunjung, langit-langit penuwun (atap) dhada-peksi tumpang-sari bertingkat tujuh, ganja pipilan curi lumah kurep; rumah Gebyok dihiasi ukiran pending melati selangsang.
Dindingnya dari batu bata persegi yang besar-besar dan halus, kepala rumah terpayungi dengan atap papan dengan wuwungan ditutup dengan gendheng(atap rumah dari tanah liat) yang diukir cantik.
"Keberadaan kerajaan Lasem tercantum di Nagarakretagama pupuh VI melukiskan saudara perempuan Hyam Wuruk beserta suaminya masing-masing.
Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas Rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana, sangat bagus lagi putus dalam naya.Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala,"paparnya.
Namun, sampai kini situs peninggalan kerajaan Lasem hancur berantakan bahkan ada yang hilang , jadi pemukiman penduduk atau tak terurus dimakan jaman.
"Puluhan situs era majapahit banyak yang rusak. Situs bekas kraton Dewi Indu juga telah hilang. Kotaraja kerajaan Lasem telah lenyap di bawah tanah. Ironis, padahal dulu kerajaan bagian Majapahit,"ucapnya getir.
(Angkasa Yudhistira)