Dalam filsafat hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya.
Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang
Selain mustaka masjid, di bagian atap dalam masjid terdapat tumpangsari terbagi 3 tingkat yang mencerminkan simbol ajaran agama islam yaitu iman, islam, dan ihsan. Sementara singkup lima tingkat mencerminkan rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan menunaikan hají).
Berdasarkan luas bangunan tersebut, masjid ini memiliki daya tampung sekitar 3500 jama’ah. Sedangkan sisa tanah digunakan untuk bangunan tempat wudhu, gedung perkantoran, gudang, tempat parkir, gedung madrasah dan kawasan bisnis (pertokoan dan swalayan).
Di belakang masjid terdapat makam para pendiri dan ulama-ulama sepuh Lasem, yaitu Adipati Tejokusumo I atau mbah Srimpet, wafat tahun 1632 M, Sayyid Abdurrohman Sambu, wafat tahun 1671 M, Mbah Djoyotirto atau KH. Baedhowi Awwal, pendiri PP. Al-Wahdah, wafat tahun 1950 M.
Kemudian, KH. Cholil Bin Abdurrosyid, pendiri PP. Annur, wafat tahun 1948 M, KH.Baidhowi Tsani, Pengasuh PP Al Wahdah dan Pendiri NU dan KH. Ma’soem Ahmad, pendiri PP. Al-Hidayat, wafat tahun 1972 M.
Lasem terletak di pantai utara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota di tepi pantai yang masuk wilayah Kabupaten Rembang ini dikenal sebagai daerah santri.
Hampir di setiap sudut kota terdapat pesantren tradisional yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun lalu.
Di tengah kota , di pinggir jalan raya Dendels Semarang-Surabaya terdapatlah masjid Jami Lasem.
(Khafid Mardiyansyah)