SETIAP tanggal 29 Mei, diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Hari tersebut merupakan hari dimana Pemerintah Republik Indonesia mengapresiasi semangat jiwa raga serta peran penting dan strategis penduduk lanjut usia di Indonesia.
(Baca juga: Saat Bung Karno Kebelet Pipis di Pesawat Pembom Jelang Kemerdekaan RI)
HLUN dibuat juga untuk mengenang jasa Radjiman Wedyodiningrat, salah satu tokoh pemikir pembentukan bangsa Indonesia. Dalam perjuangannya, ia lebih dikenal sebagai ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, karena ia merupakan salah satu peletak dasar negara Republik Indonesia.
Perjuangan Radjiman telah dimulai jauh sebelum zaman Jepang. Ia berjuang bersama Budi Utomo mempertahankan prinsip perjuangan Budi Utomo yang bersifat kebudayaan. Pemikiran kebangsaannya diwarnai dengan semangat mempertahankan budaya Jawa dan mengakomodasi dengan budaya lain yang datang. oleh karena itu, ia termasuk pemberi warna awal dari kebangsaan yang kemudian berkembang menjadi Indonesia.
(Baca juga: Sepenggal Kisah Prajurit Kopassus Bertaruh Nyawa di Sarang GAM)
Melansir ikpni.or.id, Radjiman Wedyodiningrat lahir pada 21 April 1879 di Desa Melati, Kampung Glondongan, Kota Yogyakarta, ibunya berdarah Gorontalo. Sejak kecil Radjiman dididik untuk memiliki jiwa yang bersahaja, suka bekerja keras, tabah, dan ksatria.
Hal ini karena ia menyadari dari kalangan rakyat biasa. Ia berhasil mengenyam pendidikan hingga ke negeri Belanda, Perancis, Inggris, dan Amerika. Ia berhasil memperoleh gelar dokternya di negeri Belanda pada usia 20 tahun. Sedangkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) ia peroleh dari Kesultanan Yogyakarta karena jasanya bertugas di sebuah rumah sakit di Yogyakarta pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Radjiman mengawali pendidikannya dengan menyelesaikan Europese Lagere School (ELS) pada 1893. Setamat ELS tahun 1893, ia diterima di Sekolah Dokter Jawa di Batavia dan menyandang gelar Indisch Art pada 1899.
DIA memulai karirnya sebagai seorang dokter yang bertugas di rumah sakit CBZ di Batavia. Sebagai dokter muda, banyak pengalaman yang diperoleh selama bertugas di berbagai daerah dan merasakan penderitaan rakyat di pedesaan. Dari sini ia mendapat inspirasi sebagai pejuang kemerdekaan. Dalam tugasnya ia sering melihat perlakuan kejam pihak penjajah terhadap penduduk pedesaan. Hal inilah yang memotivasi dirinya dan kawan-kawan untuk memperjuangkan nasib bangsanya, walaupun memerlukan waktu yang panjang untuk mewujudkannya.
Setelah bertugas di berbagai pelosok daerah, dia mengajukan permohonan untuk berhenti dari pegawai pemerintah pada 1905. Setelah itu, ia kemudian mengabdikan diri dan ilmunya di Keraton Surakarta sebagai dokter keraton. Berkat pengabdian dan jasanya yang besar dalam pelayanan kesehatan di Keraton Surakarta, Pakubuwono X kemudian memberikan suatu gelar kehormatan “Kanjeng Raden Tumenggung” (KRT) dengan nama Wedyodiningrat.
Radjiman berkesempatan untuk studi ke luar negeri untuk memperoleh gelar Europees Art pada tahun 1910 di Amsterdam. Ia kemudian melanjutkan studinya di bidang Ilmu kebidanan di Berlin, Jerman. Ia kemudian memperdalam Ilmu Rontgenologie pada 1919 di Amsterdam.
Kehausan akan ilmu ia kemudian memperdalam ilmu Gudascopie Urinoir di Paris, Perancis pada 1931. Pada masa pergerakan nasional, Dr. Radjiman Wedyodiningrat merupakan salah satu di antara tokoh pergerakan nasional yang berkiprah melalui Budi Utomo sejak organisasi tersebut didirikan hingga berubah menjadi Partai Indonesia Raya pada 1935. Ua merupakan salah satu pendiri Boedi Oetomo dan menjadi ketua pada 1914-1915.
Pada tahun 1918 ia menjadi salah seorang anggota Volksraad (Dewan Rakyat) bentukan pemerintah hindia Belanda dan duduk selama beberapa periode hingga tahun 1931 sebagai wakil dari Boedi Oetomo. Ia juga beraktivitas dalam parlemen. Ia memimpin penerbitan majalah tengah bulanan Timbul (1926-1930). Di majalah tersebut, Radjiman banyak menulis terutama mengenai kesenian Jawa dan kawruh Jawa.
Pada zaman pendudukan Jepang, Radjiman duduk sebagai anggota Shu Sangi kai (Dewan Pertimbangan Daerah) Madiun, kemudian Radjiman diangkat menjadi anggota Chuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat) pada tahun 1940.
Saat Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) dibentuk, Radjiman menjadi anggota Majelis Pertimbangan Poetera. Perkembangan politik dunia pada masa pendudukan sangat cepat, setelah Jepang terdesak dalam medan perang Pasifik, Jepang kemudian memberikan janji kemerdekaan, dan salah satu wujudnya adalah membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di Jawa pada akhir Mei 1945 dengan Radjiman sebagai ketuanya.
Melalui BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) inilah Radjiman berperan dalam membangun pondasi bangsa Indonesia.
Dalam perjalanan hidupnya ada sosok tokoh yang sangat berpengaruh pada pribadi dan pemikiran Radjiman, di antaranya dr. Wahidin Soedirohusodo. Wahidin merupakan orang yang berjasa dalam membentuk karir Radjiman. Ia menjadi ayah angkat Radjiman semasa ia sekolah dalam kondisi kekurangan dana. Wahidin pada waktu itu sudah menjadi tokoh penting dengan cita-cita studi fonds-nya telah membantu Radjiman, sekaligus membentuk pribadinya.
Sosok berikutnya yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan dan pemikiran Radjiman adalah Pakubuwono X. Pengabdian Radjiman sebagai dokter Keraton Surakarta membuat Pakubuwono memberikan gelar Wedyodiningrat kepada radjiman. Dampak pemberian gelar ini telah mengangkat strata psikis sosial bagi Radjiman sehingga naik ke teras lingkungan istana. Kondisi ini menjelma ke dunai luar keraton khususnya dunia politik.
Posisinya yang semakin strategis ini interaksi Radjiman semakin mantap dari dunia kedokteran menjadi dunia politik praktis. Secara operasional Radjiman menghubungkan kaitan istana dengan organisasi Boedi Oetomo. Radjiman mampu memobilisasinya dengan baik tokoh-tokoh pergerakan yang lebih muda. Dalam mobilisasi inilah ia bertemu dengan sosok Soekarno yang juga membawa pengaruh dalam aktivitas politik Radjiman yang membawa nasionalisme Jawa ke nasionalisme Indonesia.
Pada tanggal 20 September 1952, dr. Radjiman Wedyodiningrat menghembuskan nafas terakhirnya di Desa Dirgo, Widodaren, Ngawi. Jenazahnya dimakamkan di Desa Mlati, Sleman, Yogyakarta. Berdekatan dengan makam dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang yang telah membesarkannya. Rumah kediaman dr. Radjiman Wedyodiningrat di Ngawi kini sudah menjadi situs berusia 134 tahun.
(Fahmi Firdaus )