JAKARTA - 51 tahun yang lalu bangsa Indonesia berduka. Pada 21 Juni 1970, Sukarno menghembuskan nafas terakhirnya setelah menderita sakit berkepanjangan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Sukarno, presiden pertama Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan bangsa, ketegasan dan kecerdasannya membuat pria yang akrab disapa Bung Karno ini juga dikagumi oleh masyarakat dunia.
Namun di akhir hayatnya, Putra Sang Fajar harus mengalami pemenjaraan fisik dan psikis yang membuat kesehatannya menurun dengan cepat. Negeri yang dulu turut dia bantu kelahirannya justru jadi negeri yang memenjarakannya.
Beberapa minggu sesudah sidang MPRS 1967, Sukarno tetap tinggal di istana. Meski begitu, lama kelamaan jelas bahwa sebenarnya Bung Karno menjadi tahanan kota.
Pemimpin besar revolusi yang dulunya dipuja dan disanjung, kini seiring dengan perubahan konstelasi sosial politik secara perlahan mulai dipinggirkan dari pusat kekuasaan. Mei 1967, Sukarno tak lagi diizinkan memakai gelar presiden, panglima tertinggi angkatan bersenjata dan mandataris MPRS.
Baca juga: Sisi Lain Soekarno: Hindul-Hindul Markindul Kata Sandi Istri Muda Bung Karno
Menurut Sidarto Danusubroto, Mantan Ajudan Sukarno, “16 Agustus 1967, Sukarno diminta angkat kaki meninggalkan istana presiden. Dengan tenang, Bung Karno hanya membawa bendera pusaka dan pakaian yang ada. Tidak membawa apa-apa lagi.”
Tak lagi jadi presiden, penanganan masalah kesehatan Sukarno jauh dari memadai. Tim dokter kepresidenan yang telah lama merawat dan paham seluk beluk kesehatannya juga dibubarkan. Menjadi tahanan kota turut membuat kondisi kesehatan Sukarno memburuk.
Baca juga: Puan Maharani Hobi Makan di Pinggir Jalan
Kondisi kesehatan yang kian memburuk membuat Sukarno kemudian menulis surat yang isinya meminta agar diizinkan kembali ke Jakarta. Surat tersebut dibawa oleh Rachmawati, putri kedua Sukarno untuk disampaikan kepada Presiden Soeharto.
Presiden Soeharto pun mengabulkan permintaan Sukarno agar bisa kembali tinggal di Jakarta. Bung Karno pun diizinkan tinggal di Wisma Yaso, rumah yang dulu pernah ditempati Ratna Sari Dewi, istri kelima Sukarno. Namun ternyata hidup Sukarno di Wisma Yaso menambah siksaan baginya. Gerak-geriknya justru semakin dibatasi. Segala fasilitas kepresidenan yang selama ini melekat pun tak lagi bisa dinikmati.