Kisah Perang Lasem Lawan VOC, Panji Margono Gugur Perutnya Disabet Pedang

Doddy Handoko , Jurnalis
Senin 28 Juni 2021 06:48 WIB
Ilustrasi (Foto : Istimewa)
Share :

DALAM babad Carita Sejarah Lasem diceritakan bahwa perang Lasem karena kesewenang wenangan pemerintah kolonial Belanda terhadap orang tionghoa yang tinggal di Batavia pada tahun 1740.

Di Batavia timbul pemberontakan orang-orang tionghoa hampir di seluruh pulau Jawa, penyebab utama karena Gubernur jenderal VOC, Valkenier mengeluarkan peraturan, bagi semua orang tionghoa harus memiliki surat izin tinggal (var Bligf verguning). Juga memutuskan untuk mengurangi jumlah penduduk tionghoa diJawa.

Pada tahun 1741 benteng kompeni di Kartosuro berhasil dibakar dan dihancurkan , lalu sunan pakubuwono II menginstruksikan seluruh bupati wilayah Mataram untuk melawan Belanda.

Instruksi ini secara cepat ditanggapi para pejuang Jawa dan tionghoa Lasem.

"Mereka dipimpin empat serangkai yaitu, Raden Panji Margono putera Tmenggung Tejokusumo V Adipati Lasem, Kyai Ali Badhawi pengasuh pondok pesantren Purikawak desa Sumbergirang, Tan Ke Wi seorang pengusaha tambak ikan dan ubin terra cotta yang ahli beladiri kung dow dan Tumenggung Widyaningrat alias Ui Ing Kiat , pengusaha pelayaran antar pulau,"jelas Koh Lam, penggiat sejarah Lasem.

Pada Agustus 1750 Raden Panji Margono mendengar bahwa para pemberontak di Argosoka berniat untuk mengangkat senjata. Hal tersebut membuat semangatnya bangkit. Ia meminta penduduk Lasem untuk berkumpul di alun-alun depan masjid Lasem pada keesokan harinya, pada saat sembahyang Jumat.

Pengajian tersebut dipimpin oleh Kyai Ali Badawi, seorang ulama besar yang mengasuh Pondok Pesantren Purikawak di Sumurkepel, selatan masjid Lasem.

Setelah memimpin pengajian, Kyai Ali Badawi mengajak umat untuk berperang jihad mengusir Belanda dari Rembang dan bergabung dengan para pemberontak Tionghoa.

Oei Ing Kiat juga kembali bangkit memimpin para pemberontak Tionghoa untuk berperang. Namun, rencana penyerangan bocor dua minggu sebelumnya sehingga Belanda dan Adipati Suroadimenggolo III sempat mengungsi ke Jepara.

Baca  Juga : Situs Kerajaan Pajajaran di Batu Tulis Jadi Sarang Harimau?

Peperangan antara VOC dan pasukan pemberontak kembali meletus. Pasukan dari Tuban yang dipimpin Tumenggung Citrasoma bertempur dengan pasukan pemberontak Aragosoka yang dipimpin oleh Raden Panji Suryakusuma di Bonang dan Leran.

Pasukan VOC dari Jepara berusaha melewati jalur laut menuju Layur (utara Lasem), tetapi kehadiran mereka dihadang pasukan Lasem dibawah pimpinan Oei Ing Kiat yang dipersenjatai senapan dan meriam hasil rampasan perang.

Selama ini senjata-senjata tersebut disembunyikan di dalam terowongan yang digali di tepi Sungai Paturenan. Di sebelah timur Sungai Paturenan, pasukan yang dipimpin Kyai Ali Badawi menghadang pasukan VOC dan Citrasoma, tetapi banyak yang tewas akibat serangan meriam dari kapal VOC.

Raden Panji Margono memimpin pertempuran jarak dekat melawan pasukan Belanda di daerah Narukan dan Karangpace (barat Lasem) hingga ke utara di tepi laut.

"Di Narukan, perut sebelah kiri Raden Panji Margono terkena sabetan pedang hingga sebagian ususnya keluar. Ia digendong oleh pengawal pribadinya, yaitu Ki Galiya, dengan perlindungan Ki Mursada. Setelah mencapai tempat aman di utara Gombong, luka Raden Panji Margono dirawat, tetapi ia meninggal karena kehabisan banyak darah,"ungkapnya.

Sebelum gugur, ia meninggalan wasiat agar jenasahnya dimakamkan di bawah pohon trenggulun di desa Sambong tanpa ditandai gundukan tanah serta batu nisan.

Istri dan anak-anaknya diungsikan ke Narukan. Seluruh kitab suci dan Pustaka Badrasanti miliknya diserahkan kepada Ki Badraguna yang menjadi Lurak Criwik. Juga tembang sinom gubahannya sepulang dari perang Juwana agar dilestarikan sebagai kidung para dalang dan pesinden Lasem.

Berita kematian Raden Panji Margono membuat Oei Ing Kiat menjadi gelap mata. Ia maju ke depan medan peperangan dengan menggunakan pedang hingga akhirnya tertembak di dada oleh serdadu dari Ambon.

Pada saat mundur, ia ambruk dan dikelilingi orang-orang. Ia meninggalkan pesan , jenasahnya dimakamkan di lereng puncak gunung Bugel menghadap ke barat dengan ditandai dayung perahu serta pohon beringin.

"Hanya keluarganya yang diperbolehkan untuk mengetahui makamnya. Jenasahnya dibawa ke Warugunung di rumah istri mudanya yang beretnis Jawa untuk dibersihkan dan dimakamkan," ucap Koh Lam.

(Angkasa Yudhistira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya