Kapal tersebut dioperasikan untuk kepentingan militer Inggris, di Mesir, Libya, konflik di terusan Suez, Mesir, dan Samudra Atlantik.
Pada tahun 1958 , HMT Empire Orwell mengalami kerusakan akibat serangan badai di Samudra Atlantik, lalu ditarik kapal tunda Jerman ke Pelabuhan Lisabon, Portugal.
Kapal itu kemudian diketahui tak cocok untuk kapal angkut militer, karena banyak tentara kabur untuk mengunjungi keluarganya.
Inggris kemudian menghentikan penggunaan Empire Orwell lalu disewa perusahaan perkapalan Pan-Islamic di Karachi, Pakistan, untuk angkutan jemaah haji.
Tak lama kemudian kapal tadi dibeli perusahaan kapal Inggris lainnya, Alfred Holt & Co di Pelabuhan Liverpool, yang kemudian mengganti namanya dengan nama Gunung Djati.
Kapal Gunung Djati ditingkatkan tonasenya menjadi 17.851 GRT oleh perusahaan Barclay Curle & Co Ltd. di Glasgow, Skotlandia.
Dekorasi Kapal Gunung Djati dirombak untuk memanjakan para jemaah haji. Misalnya, di geladaknya dilengkapi menara masjid dan penunjuk arah kiblat ke Mekah.
Kemampuan membawa penumpang sebanyak 2.106 orang, terdiri atas 106 penumpang kelas satu dan 2.000 jemaah haji.
Pada 7 Maret 1959, Kapal Gunung Djati berlayar ke Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta untuk mengangkut sekitar 2.000-an jemaah haji.
Pengoperasian angkutan haji Kapal Gunung Djati oleh Alfred Holt & Co berakhir tahun 1962, karena Indonesia konflik dengan Malaysia yang didukung Inggris. Pada tahun 1962, Kapal Sunan Gunung Djati itu dibeli Indonesia untuk kepentingan angkutan jemaah haji.
Pada 1964, kapal itu dibeli dan dikelola oleh PT Maskapai Pelayaran Sang Saka, lalu perusahaan pelayaran Arafat Jakarta hingga tahun 1973, mesinnya diganti dengan diesel, lalu diperbaiki di Hongkong pada 1975.
Tahun 1979, Pemerintah Indonesia membeli kembali Kapal Gunung Djati. Kapal itu menjadi angkutan jemaah haji selama 21 tahun, telah membawa sekitar 42.000 jemaah haji asal Indonesia.
Selanjutnya diserahkan kepada TNI-AL dan diganti namanya menjadi KRI Tanjung Pandan bernomor lambung 971.
Kapal tersebut difungsikan sebagai kapal angkut pasukan dan logistik sampai tahun 1981. Saat umur kapal itu mencapai 48 tahun pada tahun 1984, TNI-AL mengakhiri pengoperasiannya lalu dijual ke Hongkong pada 1987 dan dibesituakan di sana.
(Sazili Mustofa)