JAKARTA - Siapa yang tak kenal KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur? Ia adalah seorang pemimpin, pemikir, penulis, cendekiawan, dan intelektual dari kalangan santri yang kerap melempar humor dalam penyampaian gagasan.
Gus Dur menjadikan humor sebagai bagian penting dan sikap kritis di dalam dunia intelektual. Hal tersebut merupakan tindakan revolusioner yang dilakukan oleh cendekiawan sekaliber Gus Dur. Sebab selama ini, humor dipandang hanya secara peyoratif dan seolah-olah dihindari kaum cendekiawan.
BACA JUGA: Humor Gus Dur, Perbedaan Indonesia dengan Negara Lain
Bagi sebagian besar cendekiawan, humor dianggap tidak ilmiah. Bahkan dinilai sebagai sesuatu yang dapat mengurangi image atau citra.
Untuk menjaga citra, biasanya para intelektual atau akademisi menghindari humor. Sebab para cendekiawan banyak berasumsi bahwa humor dapat menimbulkan kesan slengean atau sikap tidak pada umumnya, sehingga mengurangi keseriusan dalam membuat analisis dan pikiran-pikiran ilmiah.
Pemaparan tersebut diungkapkan Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Zastrouw Al-Ngatawi dalam Peringatan Haul ke-11 Gus Dur yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan dan Jerman dan disiarkan langsung 164 Channel.
BACA JUGA: Humor Gus Dur saat Pidato Kenegaraan: Syukur Memang Tak Bisa Memanjat Sendiri
Cerita itu ditulis di web NU.or.id
“Tapi Gus Dur tidak peduli. Dia justru menjadikan humor sebagai sesuatu yang penting dan menjadi bagian dari sikap kritis seorang cendekiawan. Maka Gus Dur enjoy saja membuat analisis, menyampaikan pikiran dengan cara-cara humor,” sambung Asisten Pribadi Gus Dur pada 1989-1998 ini.