Kisah 3 Santri, Sakit Gigi ke Singapura, dan Fungsi Humor Bagi Gus Dur

Doddy Handoko , Jurnalis
Minggu 18 Juli 2021 07:20 WIB
Foto: Istimewa.
Share :

Keempat, fungsi humor adalah dapat menghilangkan jarak antara cendekiawan dengan masyarakat sehingga hubungan keduanya menjadi lebih dekat dan akrab.

Sebagaimana diketahui oleh banyak orang, Gus Dur pun selalu bertindak tanpa sekat dengan siapa pun dari kelas sosial apa saja.

“Beliau biasa bercanda menyampaikan gagasan dengan humor. Menjadikan suasana sehingga menjadi lebih akrab,” lanjut Zastrouw.

Fungsi humor kelima adalah sebagai sarana menyampaikan kritik yang efektif, sekaligus mendobrak kejumudan berpikir sehingga kritik lebih mudah diterima.

Gus Dur memahami betul budaya orang Indonesia, yakni guyon maton (candaan yang tidak membuat orang lain marah).

Di zaman orde baru dulu, kata Zastrouw, kepengapan situasi sosial-politik berhasil didobrak Gus Dur melalui kritik yang sangat tajam.

Namun objek yang dikritik, yaitu Presiden Soeharto tidak pernah merasa sakit hati.

Suatu ketika Gus Dur pernah cerita bahwa orang Indonesia apabila sakit gigi, harus berobat ke Singapura.

Lalu seorang dokter di Singapura bertanya kepada orang Indonesia yang menjadi pasien itu, “Kenapa kok berobat sakit gigi saja harus ke Singapura, memang di Indonesia tidak ada dokter gigi?”

Dijawab singkat oleh sang pasien, “Ada kok dokter gigi di Indonesia. Tapi kalau berobat di Indonesia karena sakit gigi kan susah, karena di sana susah buka mulut.”

Menurut Zastrouw, kisah yang disampaikan oleh Gus Dur itu adalah sebuah bentuk kritik yang tajam dan luar biasa untuk mendeskripsikan betapa kuatnya hegemoni pada saat itu (zaman orde baru).

“Sampai orang mau buka mulut (bicara) saja susah,” pungkas Zastrouw.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya