Seorang warga Kabul bernama Ramin Ahmad mengaku, ia terpaksa menjadi pedagang barang bekas di pasar itu karena kehilangan pekerjaan. “Saya dulu bekerja di pemerintahan, dan sekarang nasib pemerintah tidak jelas. Sudah seminggu saya menggeluti usaha jual beli barang bekas. Banyak keluarga yang tidak punya uang memilih tinggal di Kabul dan terpaksa menjual peralatan rumah mereka untuk memberi makan keluarga mereka," paparnya.
Ahmad berharap, pemerintah baru Afghanistan segera mengambil tindakan agar rakyat tidak sengsara. "Situasi keamanan akan terkendali jika sistem pemerintahan telah mulai berjalan, dan pembayaran gaji diberlakukan.”
Perkembangan situasi di Afghanistan menimbulkan keprihatinan di banyak negara. Sejumlah negara telah menjanjikan bantuan namun realisasinya masih tertunda.
Sebagai contoh, China, yang pekan lalu, menjanjikan paket bantuan USD31 juta untuk Afghanistan. Bantuan tersebut akan mencakup makanan, persediaan untuk cuaca musim dingin dan vaksin Covid-19.
PBB memperingatkan bahwa pembekuan aset Afghanistan di luar negeri sekitar $10 miliar, untuk menjauhkannya dari tangan Taliban, akan menyebabkan kemerosotan ekonomi yang parah dan dapat mendorong jutaan orang Afghanistan kembali ke kemiskinan dan kelaparan.
(Susi Susanti)