JAKARTA - Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan sosok muslim taat agama yang menjunjung tinggi keberagaman dalam beragama.
Menyadur buku Mati Tertawa Bareng Gus Dur, junjungan terhadap keberagaman agama di Indonesia dibuktikan oleh dia dalam salah satu guyonannya mengenai tokoh umat beragama.
Baca Juga: Humor Gus Dur: Presiden Tanpa Latar Belakang Presiden
Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata mantan Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.
Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang dilontarkan seorang kiai, biksu dan pendeta.
“Pendeta mengatakan; Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami memanggil Tuhan Anak, Tuhan Bapak. Si biksu menimpali; Kami juga dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om. Lha bagaimana dengan Anda, pak kiai? Pak kiai menjawab; Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake menara,” urai Gus Dur diiringi tawa seisi ruangan.
“Saya tadi kan tak bilang dia korupsi, saya hanya bilang teroris,” jawabnya enteng.
Baca Juga: Humor Gus Dur: Obrolan Kocak Pemimpin Negara
(Arief Setyadi )