BOYOLALI - Di Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyalali, Jawa Tengah, terdapat sebuah gua yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai gua raja. Gua itu berlokasi di lereng Gunung Merbabu, tepatnya 1,5 kilometer dari patung Pakubuwono VI (PB VI) di Jalan Solo-Selo-Boyolali.
Ada jalan cor selebar sekitar 2 meter yang bisa dilalui mobil hingga lokasi parkir di bawah goa raja. Untuk mencapai gua tersebut, seseorang harus melanjutkan perjalanan menaiki jalan setapak yang kini sudah dicor. Jalan ini agak licin dan berlumut karena dikelilingi tanaman tinggi termasuk sebuah rumpun bambu besar.
Tepat di ujung jalan setapak ini ada cekungan kecil di dinding bukit. Cekungan inilah yang dinamai gua raja. Di dekat cekungan itu terlihat beberapa bekas sesaji dan minuman kopi di wadah cangkir plastik. Melihat dari dekat, batu-batu di sekitar cekungan atau gua raja banyak coretan aksi vandalisme.
Putri mendiang PB XII, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menceritakan gua raja dulunya merupakan tempat tapa brata atau semedi raja PB VI dan Pangeran Diponegoro. Di sanalah kedua tokoh nasional bangsa Indonesia ini mengatur strategi melawan Belanda.
“PB VI kalau dari Sultan Jogja ke-2 itu masih trah Hamengku Buwono II. PB VI membantu perjuangan Pangeran Diponegoro,” kata Moeng, di sela-sela peresmian patung PB VI di Simpang PB VI, Kecamatan Selo, melansir Solopos, pada Minggu (7/11/2021).
Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro Bertapa di Gua, Dapat Bisikan dari Sunan Kalijaga
Dari gua raja, PB VI dan Diponegoro bergerilya hingga hutan Krendowahono. Keduanya ditangkap Belanda di daerah Wedi, Klaten. Belanda mengasingkan keduanya ke Halmahera.