PORTLAND - Seorang janda tua sangat terkejut setelah dia menemukan mayat suaminya telah digunakan dalam "autopsi formal" di atas panggung dalam sebuah acara berbayar di depan penonton yang membayar.
Elsie Saunders mengatakan tidak pernah memberikan persetujuan tubuh suaminya untuk dibedah dalam sebuah acara berbayar. Penonton membayar setidaknya USD100 (Rp1,4 juta) untuk menyaksikan jenazah suaminya menjalani "otopsi resmi".
“Mengerikan apa yang terjadi pada suami saya,” kata yang terkejut, saat berbicara tentang mendiang suaminya,
Sang suami David Saunders diketahui meninggal pada usia 98 tahun pada akhir Agustus lalu karena komplikasi Covid-19.
Baca juga: Sisa-Sisa Jenazah 109 Tentara China Korban Perang Korea Dipulangkan
Meskipun dia setuju untuk menyumbangkan tubuh suaminya untuk penelitian, dia mengatakan dia tidak tahu bahwa itu akan melibatkan acara penonton dengan pelanggan yang membayar lebih dari USD500 (Rp7 juta) untuk melihat suaminya dibedah.
"Saya tidak tahu dia akan dipajang seperti beruang pertunjukan atau semacamnya," lanjutnya.
“Saya hanya menyetujui sumbangan tubuh untuk tujuan ilmiah. Seperti itulah keinginan suami saya. Kesimpulannya, Saya kesal,” ujarnya.
Baca juga: Taliban Lakukan Pembunuhan Brutal, Buang Jenazah ke Kuburan Massal
Dilansir 7 News, Saunders, 92, dari Louisiana, mengatakan dia terakhir melihat suaminya ketika suaminya meninggal di rumah sakit dan jenazahnya dibawa ke rumah duka.
Seorang perwakilan dari rumah duka dilaporkan menolak permintaan NBC untuk memberikan komentar pada Rabu (03/11).
Menurut manajer perusahaan Obteen Nassiri, mayat suaminya didapatkan dari perusahaan bernama Med Ed Labs.
Situs web Med Ed Labs menggambarkan profil perusahaannya di situs webnya bekerja sama dengan perusahaan perangkat medis untuk penelitian, pendidikan, dan pelatihan medis dan bedah.
Nassiri mengklaim bahwa keluarga Saunders tidak memberikan izin kepada perusahaannya untuk mengambil jenazah dan menggunakannya untuk tujuan medis. Dan itulah yang menurut Nassiri dilakukan perusahaan saat memperdagangkan tubuh Saunders ke perusahaan lain.
Afiliasi NBC KING di Seattle melaporkan perusahaan yang dimaksud, Death Science, adalah promotor sebuah pertunjukan di Portland yang menggunakan tubuh Saunders dalam sebuah acara sebagai bagian dari Oddities and Curiosities Expo.
Tubuh pria itu dipajang di ballroom sebuah ballroom hotel Portland Marriott saat para penonton yang membayar duduk hanya beberapa inci dari meja otopsi.
“Kami sama sekali tidak tahu tentang Curiosity Expo,” ungkapnya.
"Saya tidak akan terlibat dalam hal seperti itu,” lanjutnya.
Namun Nassiri pada hari Rabu (03/11) mengatakan dia telah meminta maaf kepada janda Saunders dan mengklaim perusahaannya seharusnya berbuat lebih banyak untuk apa yang telah direncanakan oleh Death Science untuk tubuh itu.
“Kita seharusnya melakukan lebih banyak penelitian investigasi untuk mengetahui dengan tepat apa yang mereka lakukan,” tambahnya.
Nassiri mengatakan perusahaannya sekarang memiliki mayat David Saunders.
Dia mengatakan dia mengharapkan mayatnya dikremasi dan dikembalikan ke keluarganya dalam waktu dekat.
Sementara itu, perwakilan dari Death Science mengatakan bahwa Med Ed Labs dan Nassiri bermitra dalam acara tersebut bulan lalu di Portland.
“Med Ed Labs mengetahui kursus tersebut,” kata perusahaan itu dalam email.
“Death Science bermitra dengan Med Ed Labs dan berhubungan langsung dengan Med Ed Lab, secara khusus, Obteen Nassiri selama beberapa bulan menjelang kursus, terlibat di dalamnya, di mana terdapat fakta bahwa peserta tidak secara khusus merupakan mahasiswa kedokteran dan terkait tiket penjualan,” lanjutnya.
Adapun Death Science diketahui sebagai sebagai perusahaan pendidikan yang mengkhususkan diri dalam promosi kursus, acara, dan seminar langsung dan online yang berkaitan dengan ilmu kematian untuk masyarakat umum dan profesional industri.
Menurut seorang juru bicara, penonton membayar antara USD100 (Rp1,4 juta) sampai USD500 (Rp7 juta) dan sekitar 70 orang hadir di sana.
Seorang juru bicara polisi mengatakan tidak ada undang-undang pidana yang secara langsung berbicara tentang keadaan seperti itu atas penggunaan mayat seseorang.
(Susi Susanti)