"Ayo, tutup kantornya Mas Dharto, kita pulang. Maaf, Hoegeng terlalu menyita waktu dengan banyak cerita sehingga Mas Dharto tidak bisa pulang tepat waktu. Kasihan manten anyar (pengantin baru)," katanya meledek Dharto yang waktu itu belum lama menikah.
Sebelum meninggalkan kantor, Hoegeng pun seperti biasa selalu memberi hormat kepada Dharto, yaitu dengan cara mengangkat telapak tangan kanannya di depan dahi dengan sikap sempurna. Sikap Hoegeng tersebut sangat mengesankan Dharto.
Baginya, Hoegeng merupakan sosok pemimpin yang bisa menghargai siapa pun meskipun hanya kepada anak buahnya.
Hoegeng memang terkenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan menghargai siapapun. Banyak sekali kisah kesederhanaannya bahkan dirinya menolak untuk dilakukan pengawalan dan mobil dinas saat menjabat.
Baca juga: 100 Tahun Jenderal Hoegeng, Jalan Terjal Misteri Pemerkosaan Sum Kuning
(Fakhrizal Fakhri )