BELANDA - Sejumlah negara di Eropa memberlakukan pembatasan baru (lockdown) yang lebih tegas dalam upaya menekan varian Covid-18, Omicron, yang menyebar cepat di benua ini.
Lockdown selama satu bulan penuh resmi berlaku di Belanda mulai Minggu (19/12/21).
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengatakan tindakan cepat -- termasuk menutup sekolah dan toko nonesensial, bar, pusat kebugaran, pangkas rambut -- diperlukan agar rumah-rumah sakit tidak kewalahan.
Penutupan ini hingga setidaknya 14 Januari 2022. Rutte, mengatakan penerapan kebijakan ini "tak terhindarkan".
Baca juga: Covid-19 Menggila di Eropa, Ini Beberapa Negara yang Alami Lonjakan Kasus
Berdasarkan kebijakan karantina wilayah, warga diminta untuk berada di rumah sebisa mungkin.
Jika menerima tamu, maksimal dua orang. Untuk periode 24 hingga 26 Desember dan pada 1 Januari, jumlah tamu yang berkunjung ke satu rumah maksimal empat orang.
Baca juga: Gelombang Kelima Covid-19, Belanda Kembali Terapkan Lockdown Ketat Hingga Januari 2022
Denmark, Irlandia, dan Swiss semuanya menerapkan kembali sejumlah pengetatan.
Di Inggris, Menteri Kesehatan Sajid Javid, mengatakan diperkirakan 60% dari kasus baru Covid-19 di Inggris disebabkan oleh varian Omicron.
Ia juga mengatakan terbuka kemungkinan pemerintah memberlakukan pengetatan sebelum Natal.
Di Inggris, lebih dari 10.000 kasus Covid yang disebabkan varian baru Omicron telah muncul pada Sabtu (18/12). Pada Minggu (19/12), sekitar 60% dari kasus baru Covid-19 disebabkan oleh Omicron.
Para penasihat ilmiah memperingatkan jumlah pasien yang dirawat di Inggris bisa mencapai 3.000 orang per hari tanpa penerapan kebijakan apapun.
Wali Kota London, Sadiq Khan, mengatakan jumlah kasus mencapai rekor di ibu kota Inggris menunjukkan "betapa seriusnya keadaan ini".
Menurutnya, layanan kesehatan, dinas pemadam kebakaran, kepolisian, dan Balai Kota London "luar biasa khawatir dengan lonjakan besar varian Omicron".
Per Jumat (17/12), terdapat 1.534 pasien Covid yang dirawat di semua rumah sakit di London, naik 28,6% dari pekan lalu.
Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, memperingatkan bahwa gelombang besar varian Omicron akan melanda Inggris dalam waktu dekat. Sebagai langkah antisipasi, suntikan vaksin dosis ketiga atau booster akan diberikan kepada khalayak Inggris berusia di atas 18 tahun mulai pekan ini.
"Tiada yang seharusnya meragukan bahwa gelombang besar akibat varian Omicron akan terjadi," kata Boris dalam sebuah pernyataan di televisi, Minggu (12/12) malam.
Boris meningkatkan status kewaspadaan terhadap virus corona ke level empat. Keputusan itu dia ambil setelah para ilmuwan memperkirakan akan ada gelombang besar penularan pada Januari mendatang.
Kewaspadaan level empat menandakan penularan yang tinggi. Status ini terakhir kali diterapkan di Inggris pada Mei lalu.
"Saya khawatir kita sekarang menghadapi keadaan darurat dalam pertempuran melawan varian baru Omicron," ujarnya.
"Sekarang jelas bahwa dua dosis vaksin tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang kita semua butuhkan,” lanjutnya.
"Namun kabar baiknya, para ilmuwan kita yakin bahwa dengan dosis ketiga, semua orang dapat meningkatkan level perlindungan itu kembali," ucapnya.
Suntikan dosis ketiga pekan ini akan mulai tersedia bagi semua warga Inggris yang berusia di atas 18 tahun Sebelumnya, suntikan ketiga ini baru akan ditawarkan akhir Januari mendatang.
"Pada titik ini para ilmuwan tidak dapat memastikan bahwa Omicron tidak terlalu parah," terangnya.
"Dan jika itu terbukti benar, kami sudah tahu varian itu jauh lebih menular sehingga gelombang kasus akibat Omicron pada orang-orang yang tidak menerima dosis ketiga akan berisiko meningkatkan cakupan rawat inap dan menyebabkan kematian yang sangat banyak," tuturnya.
Warga Inggris berusia 18 tahun ke atas dapat menerima vaksin dosis ketiga jika sudah melewati masa tenggang tiga bulan sejak dosis kedua.
Untuk mencapai target pemberian dosis ketiga, Boris menyebut banyak pertemuan medis antara dokter dan pasien harus ditunda hingga tahun baru.
Beberapa dokter sudah diizinkan menunda pemeriksaan kesehatan rutin untuk memberi ruang bagi vaksinasi.
(Susi Susanti)