JAKARTA - KH Miftachul Akhyar telah ditunjuk menjadi Rais 'Aam Nadhlatul Ulama (NU) untuk periode 2021-2026. Keputusan ini diambil oleh sembilan orang Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada sidang Muktamar NU ke-34 di Bandar Lampung, Kamis (24/12/2021).
BACA JUGA: Gus Yahya Jadi Ketum PBNU, Said Aqil: Pilihan Muktamirin Sangat Tepat
Rais 'Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atau lebih dikenal dengan Rais Aam merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut pemimpin tertinggi di dalam jam’iyah NU. Dalam bahasa Arab, Rais Aam memiliki arti ketua umum. Namun, uniknya, kalangan nahdliyin juga mempunyai ketua umum dalam tubuh PBNU.
Bedanya, Rais Aam merujuk kepada ketua syuriyah yang anggotanya adalah kiai-kiai besar NU. Sementara Ketua Umum (tanfidziyah) mengacu pada pelaksana PBNU. Rais Aam pertama NU adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Ia diberi gelar sebagai Rais Akbar NU.
Tugas dan wewenang dari Rais 'Aam telah dijabarkan secara lengkap di Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama (ART) NU hasil Muktamar ke-33 NU Jombang pada 2015.
Mengutip ART NU Bab XVIII Pasal 58 ayat 1, berikut adalah kewajiban seorang Rais Aam dalam PBNU.
-Mengendalikan pelaksanaan kebijakan umum organisasi.
-Mewakili PBNU baik keluar maupun ke dalam yang menyangkut urusan keagamaan baik dalam bentuk konsultasi, koordinasi, maupun informasi.
BACA JUGA: Cak Imin: Duet Kiai Miftah-Gus Yahya di PBNU Akan Banyak Inovasi
-Bersama Ketua Umum mewakili PBNU dalam hal melakukan tindakan penerimaan, pengalihan, tukar-menukar, penjaminan, penyerahan wewenang penguasaan atau pengelolaan dan penyertaan usaha atas harta benda bergerak dan/atau tidak bergerak milik atau yang dikuasai NU dengan tidak mengurangi pembatasan yang diputuskan oleh muktamar baik di dalam atau di luar pengadilan.
-Bersama Ketua Umum menandatangani keputusan-keputusan strategis PBNU.
-Bersama ketua umum membatalkan keputusan perangkat organisasi yang bertentangan dengan AD dan ART NU.