Usai Pemilu 1982, para preman mulai meminta timbal balik berwujud sumber daya ekonomi, kepada pemerintah atas kontribusinya dalam membantu memenangkan kontestasi politik. Alih-alih dituruti, oleh pemerintah, permintaan tersebut dinilai di luar batas.
Akhirnya karena dianggap rewel, preman-preman ini dihabisi oleh militer. Sapu bersih para kriminal ini makin masif digalakkan manakala Leonardus Benyamin 'Benny' Moerdani naik jadi Panglima ABRI pada 1983. Di mata Benny, para kriminal tak ubahnya seperti kanker: cuma bikin susah hidup masyarakat.
Dikutip dari buku 'Benny Moerdani yang Belum Terungkap', menurut Teddy Rusdy, mantan perwira Badan Intelijen Strategis, para preman tak dibunuh begitu saja. "Sebelum preman dibunuh, harus ada persetujuan sepuluh orang di lingkungan yang ada premannya," ujarnya pada pertengahan September 2014.
(Susi Susanti)