"Saya dengar distrik lain menerima bantuan secara bertahap, tapi saya tidak menerima apapun. Kompleks kami melarang warga ke luar rumah. Saya memesan sembako secara daring empat hari lalu, tapi tidak ada tanda-tanda paket itu datang. Saya tidak mendapat sayur apapun selama berhari-hari," sebut seorang pengguna media sosial Weibo.
"Pembagian sembako tidak rata. Distrik tempat saya berada belum dapat apa-apa. Kami diminta berkelompok dan memesan bersama. Harganya juga sangat mahal,” terang warganet lainnya.
Sebuah video yang dibuat pekan ini dan telah beredar di dunia maya memperlihatkan penduduk di salah satu wilayah permukiman Kota Xi'an berdebat dengan polisi soal kekurangan makanan.
Surat kabar Global Times milik pemerintah melaporkan bahwa di beberapa tempat makanan sudah diantarkan ke gerbang kompleks , namun jumlah relawan pengantar paket sembako ke depan pintu rumah warga kurang banyak.
Supir pengantar paket sembako juga kurang banyak karena mereka pun menjalani karantina wilayah.
Pada Rabu (29/12), pemerintah kota mengaku bahwa "kurangnya staf, kesulitan logistik serta distribusi" menimbulkan masalah pengantaran sembako ke warga.
Namun, pada Kamis (30/12), menteri perdagangan China menegaskan kepada wartawan bahwa penduduk Xi'an punya akses sembako "memadai", sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP.
Stasiun-stasiun televisi milik pemerintah juga menayangkan liputan para petugas dengan APD memilah sembako, seperti telur, daging, dan sayuran ke dalam plastik untuk kemudian diantarkan dari pintu ke pintu.
"Kami dapat paket sembako gratis dari pemerintah. Sebenarnya cukup banyak. Cukup dimakan selama tiga hari atau empat hari untuk sebuah keluarga," sebut seorang penerima paket sembako di Weibo.
Wabah terkini menyebabkan banyak orang yang meragukan kemampuan China dalam mempertahankan pendekatan nol kasus Covid menjelang Olimpiade Musim Dingin 2022 pada Februari.
China telah menyebut Covid sebagai "ancaman terbesar" dalam menyelenggarakan pesta olahraga tersebut.
(Susi Susanti)