Enam bulan setelah bergabung dengan Angkatan Darat, dia ditugaskan menjaga Istana Buckingham.
"Saya sudah lepas dari narkotik tapi masih merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya," ujarnya.
"Ketika saya bergabung dengan Scots Guard, saya merasa sangat bangga dengan apa yang telah saya capai,” terangnya.
"Saya ingat berpikir, 'Wow, beberapa tahun yang lalu saya adalah seorang pecandu heroin di Lochend dan sekarang saya menjaga istana," tuturnya.
Setelah lima tahun di berdinas di Scots Guard, Paul diminta menjalani pelatihan militer lain. Dia diagendakan berdinas di Afghanistan. Namun pada pelatihan itu dia jatuh dari truk. Punggungnya patah.
Atas alasan medis, Paul dipulangkan dan batal bertugas ke Afganistan. Dia diberi resep obat penghilang rasa sakit untuk tulang belakangnya yang hancur. Namun kemudian dia sangat bergantung pada obat itu.
Pada masa karantina wilayah akibat pandemi Covid-19, Paul mulai menulis buku berjudul ‘Heroin to Hero’. Seluruh hasil penjualan buku itu dia sumbangkan untuk tunawisma.
Buku itu berisi kenangannya lepas dari heroin, yang memungkinkannya berhenti meminum obat penghilang rasa sakit.
"Saya hanya memilih untuk hidup dengan rasa sakit sekarang daripada minum pil,” ujarnya.
Sekarang Paul kerap berbicara di banyak sekolah untuk mengampanyekan dampak buruk narkotika. Dia juga menyediakan diri untuk sesi konseling bagi narapidana di penjara. Semuanya dia lakukan secara gratis.
"Narkotika itu buruk, kecanduan itu mengerikan," ujarnya.
"Sulit untuk menghentikan kecanduan. Anda akhirnya menerima nasib Anda dan Anda bisa berakhir mati seperti banyak teman saya," lanjutnya.
Saat ini Paul, 42, tinggal di Fife, sebuah kota kecil di Skotlandia.
(Susi Susanti)