JAKARTA - Relief perahu bercadik ganda di Candi Borobudur barangkali adalah simbol paling tepat untuk menggambarkan perdagangan laut antarbangsa sebelum zaman pertengahan.
Model miniatur perahu ini salah satunya bisa dilihat di Museum Angkut, Malang, Jawa Timur. Bagi orang awam, miniatur perahu ini mungkin dianggap sama dengan perahu-perahu China, Persia, atau Mediterania yang sezaman.
Tetapi ada satu hal yang membuat perbedaan mendasar, yakni adanya bilik-bilik bagi perempuan.
Periode zaman pertengahan sebenarnya tidak benar-benar pas untuk menggambarkan perkembangan yang terjadi di negeri-negeri yang berada di antara tiga samudera, demikian dilansir dari indonesia.go.id.
Negeri-negeri yang oleh sejarawan Prancis Anthony Reid dinamakan dengan "Negeri Bawah Angin" telah mengalami periode perdagangan global yang lebih lama dibandingkan dengan penjelajah laut dari Mediterania.
Baca juga: Penyebab Hubungan Erat Kerajaan Sunda Galuh dengan Sriwijaya-Majapahit
Keberadaan bilik-bilik bagi perempuan di perahu-perahu yang berasal dari Kepulauan Asia Tenggara semakin diperkuat kesejarahannya dengan temuan-temuan penelitian genetika.
Penelitian lembaga mikrobiologi Eijkman, Jakarta, telah mengkonfirmasi adanya leluhur-leluhur perempuan dari orang Madagaskar yang berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan.
Baca juga: 5 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Berisi Kutukan Mengerikan
Perkawinan antara perempuan-perempuan yang berasal dari salah satu wilayah bawahan Kedatuan Sriwijaya dengan laki-laki Madagaskar ini terjadi pada sekitar abad 9 hingga 11 masehi.