Hoegeng yang melihat anaknya tersebut bertanya “Ada maksud apa ke sini?” ucap Hoegeng,
Lalu Didit menjelaskan maksud kehadirannya. Hoegeng pun menjawab “Ya sudah, nanti saja.” Didit pun keluar dan pulang.
Bukan maksud Hoegeng untuk menunda-nunda Didit karena mengulur waktu surat izinnya. Namun, setelah beberapa hari Didit akhirnya memberanikan diri untuk bertanya karena Didit takut jika nanti terlambat memberikan surat izin dan dia tak akan jadi taruna.
Setelah 3 hari, Didit dipanggil ke kantor Hoegeng. Ia mengira ayahnya akan langsung memberikan surat izin. Namun alih-alih diberikan surat, Hoegeng tidak menyetujui Didit menjadi Taruna.
“Tidak menjadi polisi kan? Biar bapakmu saja yang menjadi polisi. Hanya ada satu Hoegeng di kepolisian. Tak boleh ada dua Hoegeng,” ucap Hoegeng.
Sumber: Buku Hoegeng Polisi dan Mentri Teladan karya Suhartono
(Erha Aprili Ramadhoni)