Selama memerintah, dikenal tegas dan ketat dalam menegakkan hukum yang ada. Sultan Trenggono juga memerintahkan rakyatnya untuk mematuhi perintah-perintah ajaran agama Islam juga aturan-aturan dalam Jaya Langkara. Jaya Langkara yaitu sebuah karya tentang prinsip hukum dan aturan Islam.
Semasa dipimpin Sultan Trenggono, Islam telah berhasil ditanamkan dengan kuat di Pulau Jawa. Masjid-masjid dibangun dan perjanjian membangun kerukunan dan perdamaian berhasil dibuat dengan Raja Kalimantan, Bali, Palembang, Singapura, Indragiri, dan lainnya Sultan Trenggono wafat 1546 M saat memimpin ekspedisi militer untuk menundukkan Panarukan Jawa Timur yang tidak mau mengakui kekuasaan Kasultanan Demak. Makam Sultan Trenggono berada di kompleks Masjid Demak, di cungkup khusus bersama keluarga terdekat dan para pembantunya. Makam ini bersebelahan dengan Makam Sultan Fatah dan Raden Pati Unus.
Keluarga Sultan Trenggono
Semasa hidupnya, Sultan Trenggono dikisahkan memiliki dua orang Permaisuri, yaitu Putri Nyai Ageng Malaka dan Putri Sunan Kalijaga.
Dari kedua kedua istrinya Sultan Trenggono memperoleh sembilan orang anak yaitu Ratu Mas Pembayun, Raden Mukmin (Panembahan Prawata), Ratu Mas Pamantingan, Ratu Mas Kalinyamat, Ratu Mas Arya Ing Surabaya, Ratu Mas Katamban, Ratu Mas Cempaka (istri Hadiwijaya Sultan Pajang=Jaka Tingkir), Panambahan Mas Ing Madiun, Ratu Mas Sekar Kedaton.
(Erha Aprili Ramadhoni)