Liang mengatakan tim akan terus membantu Oh, termasuk mencari bantuan sosial jangka panjang dan membantu kembali bersama istri dan putrinya di Indonesia.
Flat satu kamar tidur yang sekarang dia tinggali bersama pria lain, berukuran kecil dan berperabotan jarang.
Beberapa barang pribadi di flat telah dilengkapi dengan lemari es, televisi, ketel dan pemanas air yang disumbangkan oleh simpatisan.
Oh sangat senang dengan pemanas airnya. Dia terbiasa mencuci di air dari kolam di sebelah tempat berlindungnya di hutan dan menemukan air keran terlalu dingin.
Dia sekarang bekerja sebagai sopir, mengangkut pekerja asing dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan kadang-kadang melakukan pekerjaan berkebun.
Hari kepindahannya juga merupakan pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade dia merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarganya di Singapura.
"Saya makan banyak! Dan ada banyak jenis makanan yang sudah bertahun-tahun tidak saya cicipi!," ujarnya sambil tertawa.
"Luar biasa. Saya juga menonton televisi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun. Saya sangat menikmatinya,” lanjutnya.
Namun, ia jelas masih merindukan kebebasan hidup di hutan, meski ia mengaku lebih suka tinggal di rumah susun.
"Saya tinggal di sana selama bertahun-tahun, jadi ya tentu saja saya merindukannya," katanya dalam bahasa Hokkien, bahasa Cina.
"Bahkan sekarang saya kembali ke hutan setiap hari. Saya bangun jam 3 pagi, berpakaian dan keluar untuk memeriksa sayuran saya, semua saya lakukan sebelum hari kerja saya dimulai,” tambahnya.
Diketahui, tunawisma relatif jarang terjadi di Singapura. Negara ini rata-rata memiliki salah satu populasi terkaya di Bumi.
Menurut angka terbaru dari Bank Dunia, Produk Domestik bruto (PDB) per kapita negara kota mencapai hampir USD60.000 (Rp859 juta).
Singapura juga memiliki sistem perumahan umum yang luas, dengan hampir 80% penduduknya tinggal di properti yang disubsidi, dibangun dan dikelola oleh Housing Development Board (HDB).
Namun, meskipun kemiskinan bukanlah pemandangan umum di kota, diperkirakan sekitar 1.000 warga Singapura kehilangan tempat tinggal.
(Susi Susanti)