Wanita Asal Surabaya Ini Rela Hidup Nomaden di Kapal, Bersihkan Sampah Plastik di Pantai Norwegia

Agregasi VOA, Jurnalis
Rabu 23 Februari 2022 13:41 WIB
Kisah wanita Surabaya hdup nomaden di kapal demi membersihkan sampah di pantai Norwegia (Foto: Ika Olsen)
Share :

NORWEGIA – Kehidupan yang dipilih Ika Permatasari-Olsen bukanlah kehidupan biasa. Wanita asal Surabaya ini telah memutuskan hidup nomaden di kapal selama 2,5 tahun dengan tujuan mulia. Yakni memberishkan pantai-pantai di Norwegia dari banyak sampah plastik.

Jika di masa pandemi Covid-19 ini banyak orang yang bekerja atau pun berkegiatan dari rumah, tapi tidak dengan wanita ini. Perempuan 30 tahun ini bekerja dan berkegiatan dari sebuah kapal yacht dan hari-harinya dihabiskan untuk membersihkan samudera.

“Menyenangkan dan asyik,” ujarnya. Hidup nomaden di atas kapal dijalaninya sejak 2018 bersama suami Oyvind Olsen, seorang warga Norwegia. Ika, yang ketika itu masih bekerja kantoran dalam bidang IT di Surabaya, tadinya enggan meninggalkan kehidupannya di darat. Sang suami pun yang sudah lebih berpengalaman, turun tangan berusaha meyakinkannya untuk mencoba hal baru.

“Pak Olsen sudah lama tinggal di yacht dan dia sudah keliling-keliling, terus dia bilang kenapa kita ngga liburan ke yacht aja, kan gantian, gitu. Akhirnya oke-oke, let me try,” ujarnya kepada VOA dalam wawancara yang dilakukan secara jarak jauh.

Baca juga: Kisah Perempuan yang Ajak Suami dan Anaknya Hidup Nomaden, Keliling Dunia!

Dari Surabaya, mereka terbang ke Spanyol untuk mengambil kapal bernama "North Eagle" milik Oyvind yang berlabuh di sana. Rute pertama yang mereka lalui bersama adalah dari Barcelona ke Majorca di Spanyol. Perjalanan itu ditempuh selama 30 jam dan penuh tantangan.

 Baca juga: 'Pesan Dalam Botol' dari Skotlandia Ditemukan Sejauh 1.287 Km di Norwegia Usai 25 Tahun Berlalu

“Anginnya kencang sekali. Jadi satu hari satu malam saya mabuk laut, ngga bisa bangun. Sampai ke tempatnya itu aku bilang gini, ‘udah lah, aku mau terbang balik ke Barcelona aja lah,’” kenangnya.

Tapi Oyvind terus membujuknya dan Ika setuju untuk mencobanya sekali lagi.

“Lalu kami coba lagi, tapi kali ini cuacanya lebih baik, dan dia mulai menyukainya. Sekarang dia betah di kapal dan saya tak bisa mengusirnya,” canda Oyvind, yang sudah delapan tahun hidup di kapal model Beneteau 57 tersebut.

Sejak itu petualangan keduanya dimulai. Mereka hidup di atas kapal berukuran 17 meter x 5 meter yang nyaman dan berfasilitas lengkap. Di dalamnya ada ruang utama yang dilengkapi sofa dan TV, kamar tidur, kamar mandi, ruang laundry, serta dapur kecil untuk memasak makanan Indonesia setiap hari.

Pasangan ini berlayar dari satu negara ke negara, pulau ke pulau dan pantai ke pantai, sebagian besar di Laut Mediterania. Mereka mengunjungi berbagai negara Eropa, mendatangi pulau-pulau tak berpenghuni, dan menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah.

Namun, ibarat ombak, perjalanan mereka penuh pasang surut. Apalagi berlayar sangat bergantung pada cuaca.

“Karena kita terjebak badai itu bukan sekali dua kali, yang bikin aku mikir, mau ngga mau aku harus belajar nyetir, karena cuma kita berdua, eventhough kalau kita pas sailing di Mediterania memang dekat sama coastline, tapi kan tunggu bantuan itu tidak bisa menyelamatkan nyawa,” jelasnya dari Tromso, Norwegia.

Kini Ika sudah terampil mengemudikan kapal berwarna hitam tersebut. Dia juga bisa merencanakan rute, merawat bagian-bagian kapal, serta menguasai navigasi.

“Dia pelaut hebat sekarang,” ujar Oyvind.

“Kami bekerja sama dengan baik sebagai satu tim. Ketika merapat ke pelabuhan, sesuatu yang sangat sulit, saya di balik roda kemudi mengemudikan kapal, dan dia yang melemparkan tali dan menambatkan kapal,” lanjutnya.

Jika tidak sedang memegang roda kemudi, Ika bekerja jarak jauh, untuk sebuah perusahaan piranti lunak milik Singapura yang memiliki cabang di Surabaya. Perusahaan tempatnya bekerja tiga tahun terakhir ini, mengizinkannya bekerja jarak jauh, bahkan sejak sebelum pandemi Covid-19.

Pandemi yang melanda sejak Maret 2020 juga berimbas pada dunia pelayaran. Karena beberapa perbatasan negara ditutup, mereka memutuskan untuk berlayar di perairan Norwegia saja, dimana kapal itu terdaftar. Pilihan ini juga dirasa pas karena perairan dan pulau-pulaunya lebih sepi.

Dan di salah satu pantai Norwegia inilah Ika berkenalan dengan organisasi nirlaba “In the Same Boat,” yang bertujuan membersihkan limbah plastik dari pulau-pulau dan pantai-pantai di Norwegia.

“Kita berlayar dari garis pantai ke garis pantai lain untuk bersihin sampah, karena di banyak area di Norwegia, apalagi di pulau-pulau terluar tidak ada transportasi darat yang bisa menjangkau, satu-satunya cara pakai kapal,” ujar Ika yang bergabung dengan LSM tersebut sejak Agustus 2020.

Bersama para relawan yang berdatangan dari seluruh dunia, ia naik kapal, membawa peralatan, mendatangi pulau dan pantai, untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik seperti botol, jaring dan benda lain. Dia pernah membantu mengumpulkan 1.7 ton plastik hanya dalam dua hari di sekitar Tromso. Limbah itu dibawa ke Pelabuhan utama untuk didaur ulang.

Kehadirannya dalam kelompok itu disambut baik oleh salah seorang pendiri “In the Same Boat,” Rolf-Organ Hogset.

“Dia pekerja keras. Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, tidak hanya dengan membersihkan pantai, tapi membantu dengan hal-hal lain juga. Dan dia pintar memasak masakan Asia,” ujarnya dari Vega kepada VOA.

Bagi Ika dan suami, Oyvind, ini merupakan aktivitas yang produktif dan aman di tengah pembatasan terkait pandemi virus corona. “Ini kegiatan yang sangat berarti, daripada tidak ngapa-ngapain,” ujar Oyvind yang kini sedang menikmati masa pensiun setelah puluhan tahun menerbangkan pesawat jet militer dan komersial.

Adapun LSM “In the Same Boat” diketahui memiliki belasan kapal. Kelompok LSM ini telah mengumpulkan lebih dari 1.000 ton sampah plastik sejak 2017. Mereka memasang target untuk membersihkan 20.000 pantai antara 2020 dan 2025.

“Hasilnya sudah cukup lumayan. Kami sudah membersihkan beberapa area paling kotor. Sekarang kami sedang bekerja di area dengan polusi yang lebih sedikit,” ujar laki-laki yang hidup di kapal ini.

Untuk ke depannya, Rolf mengatakan, organisasi ini tidak hanya akan melakukan upaya pembersihan saja, tapi juga berusaha mencegah masuknya sampah plastik ke perairan. Sambil terus melakukan upaya penggalangan dana, mengingat dana yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan ini, tidak sedikit.

Setelah 2,5 tahun berlayar, Ika mengaku banyak kepuasan yang didapatkan. “Kita bisa melihat melakukan hal-hal atau sesuatu yang mungkin kalau kita traveling mainstream, tidak bisa mendapat pengalaman yang sama,” kata pelaut itu.

Misalnya menyaksikan Aurora Borealis, cahaya cantik di langit utara atau menyaksikan ikan paus humpback dari jarak sangat dekat.

Untuk sekarang ini, karena pandemi, Ika mengatakan masih akan menghabiskan waktu di perairan Norwegia dan membersihkan pantai dari plastik. Ia dan suami juga sudah menyimpan rencana untuk berlayar ke Greenland, Kanada, AS, Selandia Baru dan akhirnya Indonesia. Namun rencana ini kemungkinan baru akan diwujudkan apabila situasi terkait pandemi sudah lebih baik.

(Susi Susanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya